Berita Jembrana
8 Bencana Terjadi di Jembrana Dalam 10 Hari Terakhir, BPBD Imbau Waspadai Banjir dan Pohon Tumbang
Intensitas hujan di Jembrana belakangan ini mulai tinggi. Tercatat, ada 8 peristiwa bencana alam yang terjadi dalam sepuluh hari terakhir.
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, JEMBRANA - Intensitas hujan di Jembrana belakangan ini mulai tinggi.
Tercatat, ada 8 peristiwa bencana alam yang terjadi dalam sepuluh hari terakhir.
Masyarakat diminta waspada dan diharapkan melakukan gotong-royong membersihkan lingkungan untuk mengantisipasi terjadinya luapan air hingga banjir.
Baca juga: Modus Pacaran, Siswi SMP di Jembrana Diduga Dirudapaksa Pria 22 Tahun
Di wilayah desa, krama banjar atau masyarakat sudah mulai rutin melalukan gotong-royong.
Mulai dari pembersihan rumput pinggir jalan rata hingga membersihkan selokan.
Diharapkan, dengan kegiatan ini semua wilayah terbebas dari genangan air hingga banjir.
Baca juga: Anak 3 Tahun Korban Lakalantas di Jembrana Meninggal Dunia, Hanya Bertahan 8 Jam
Menurut data yang diperoleh dari BPBD Jembrana, total delapan kejadian tersebut terjadi sejak 23 November - 2 Desember 2023 kemarin.
Peristiwa yang terjadi seperti pohon tumbang serta masih adanya sebagian wilayah yang kekurangan air bersih.
Sehingga BPBD masih menyuplai air bersih ke sejumlah wilayah.
Baca juga: Makepung Lampit Diusulkan WBTB, Atraksi Budaya Warisan Leluhur Jembrana Harus Dilestarikan
"Hujan deras mulai terjadi sesuai prediksi sebelumnya. Awal Desember intensitasnya mulai tinggi," kata Pelaksana Tugas BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra.
Dia menyebutkan, pohon tumbang dan banjir menjadi ancanam atau potensi tertinggi ketika hujan deras.
Selama ini, pohon tumbang sudah mulai terjadi. Selain itu, masih ada sebagian wilayah yang memerlukan air bersih.
Baca juga: Kasus Pungli Jembatan Timbang Cekik Jembrana, Nurbawa dan Suputra Dituntut Penjara 1,5 Tahun
"Sebagian wilayah masih memerlukan air bersih sehingga kita suplai. Tapi intensitasnnya sudah jauh berkurang mengingat sebagian besar mengandalkan air swadaya," ungkapnya.
Dengan adanya potensi banjir yang tinggi, kata dia, pihaknya telah mengimbau seluruh desa/kelurahan untuk melakukan rangkaian antisipasi.
Seperti mengajak masyarakat untuk membersihkan selokan atau saluran irigasi. Sebab, sampah kerap menjadi pemicu irigasi mampet dan meluber bahkan menyebabkan banjir.
"Tapi kami lihat masyarakat sudah mulai gotong-royong untuk membersihkan lingkungan. Semoga ke depan tidak sampai terjadi hal tersebut (banjir maupun luapan air)," harapnya.
Terpisah, Babinsa Mendoyo Dauh Tukad, Serda Suwardi nampak berbaur bersama masyarakat setempat untuk melakukan gotong-royong membersihkan lingkungan. Sepanjang jalur air atau selokan yang ada.
"Kami bersama masyarakat gotong-royong membersihkan lingkungan. Ini juga sebagai antisipasi adanya luapan air maupun banjir," katanya.
Ia bersama, masyarakat secara rutin melakukan pembersihkan lingkungan dengan gotong-royong. Sebab, kepedulian lingkungan harus benar-benar dipupuk dan dilakukan secara rutin. (*)
Berita lainnya di Bencana di Jembrana
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.