Berita Bali
WASPADA Demam Berdarah! 3 Daerah Wilayah Wisata Rawan Kena, Ini Imbauan Dinas Kesehatan Bali
Mengenai vaksin DBD, pemerintah tidak memprogramkan sehingga berbayar. Harganya sekitar Rp 300 sampai Rp 400 ribu.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - Kasus demam berdarah dengue (DBD), menyerang wisatawan asing yang sedang berlibur di Bali.
Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bali, dr I Gusti Ayu Raka Susanti, meminta wisatawan selalu menjaga, bila perlu divaksin DBD.
Raka Susanti menyatakan belum menerima laporan wisatawan mancanegara (wisman) terkena DBD di Bali, lantaran setiap laporan yang masuk ke Dinas Kesehatan (Diskes) Bali tidak ada pembeda warga Indonesia atau wisatawan asing.
Mengenai vaksin DBD, pemerintah tidak memprogramkan sehingga berbayar. Harganya sekitar Rp 300 sampai Rp 400 ribu.
“Kami belum masuk program (vaksin DBD). Kalau tidak salah Rp 300 atau 400 ribu sekali suntik. Kalau masyarakat mau, silakan ke fasilitas yang memang sudah menyediakan vaksinnya,” jelas Raka, Minggu (21/4).
Kasus DBD mulai awal tahun, kata Raka Susanti terus meningkat. Meski, angkanya diklaim menurun dibandingkan tahun lalu.
Baca juga: RENCANA Kenaikan Tarif Parkir Tepi Jalan Denpasar Masih Menunggu Kondisi Inflasi Hingga Akhir 2024
Baca juga: BERAS Perumda Pasar Badung Dikeluhkan, Banyak Kutu dan Kualitas Tidak Bagus!

Jumlah kasus terbanyak di tiga daerah, yakni Badung, Denpasar dan Gianyar. “Kalau Januari sekitar 700, naik. Maret 1000 lebih kasus.
April ini sekitar 300 sudah tercatat. Mudah-mudahan sudah terjadi penurunan. Yang tinggi Badung, Gianyar dan Denpasar,” ucapnya.
Kasus DBD paling tinggi di daerah wisata sehingga diharapkan masyarakat maupun wisatawan bisa menghindari gigitan nyamuk dengan pakai lotion anti nyamuk, karena nyamuk keluar siang hari.
“Jam menggigit nyamuk siang hari. Keluar pakai lotion anti nyamuk dan tidur siang disemprot. Pakai kelambu kalau tidak mau terganggu aroma obat nyamuk,” tuturnya.
Disinggung mengenai WNA yang terkena DBD, Raka Susanti menegaskan tidak tahu karena laporan yang masuk tidak membedakan warga lokal maupun wisatawan.
Kemungkinan yang mengetahui petugas kesehatan di kabupaten dan kota.
Tidak hanya DBD, dikatakan, wisman juga rawan terkena diare.
“Tidak melihat wisatawan atau apa. Kalau kasusnya tinggi segera kami lakukan intervensi.
Seperti di Denpasar, petugas Puskesmas yang turun ke rumah- rumah. Kami memang belum membedakan wisatawan atau tidak. Tapi kabupaten/kota pasti bergerak,” katanya. (sar)
UPAYA PHDI Denpasar Ringankan Beban Umat, Gelar Upacara Menek Kelih Hingga Metatah Massal |
![]() |
---|
Gelar Aksi Damai ke Kantor Gubernur, Partai Buruh Exco Bali Tuntut Stop PHK dan Hapus Outsourcing |
![]() |
---|
Kejati Bali Dorong Penanganan Tindak Pidana Korupsi Lewat Mekanisme DPA, Lazim di Luar Negeri |
![]() |
---|
Pemprov Bali Nantikan Pusat Untuk Penentuan Lokasi Tersus LNG |
![]() |
---|
Cuaca Buruk, Pelabuhan Gilimanuk Bali Ditutup Hampir Dua Jam, Antrean Kendaraan Mengular |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.