Mahasiswa STIP Tewas
Soroti Terulangnya Kekerasan di STIP yang Tewaskan Putu Satria dari Bali, Komisi X DPR: Audit Total
Buntut kasus tewasnya taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta asal Klungkung Bali, Putu Satria memantik kekecewaan berbagai kalangan
Terkait hal ini, Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Gidion Arif Setyawan mengatakan, pihaknya akan mendalami dugaan tersebut.
"Ya kalau ada fakta baru pasti menjadi bahan penyidikan lebih lanjut," kata Gidion, Jumat 10 Mei 2024.
Gidion juga mengatakan, tak menutup kemungkinan nantinya penyidik akan turut memeriksa kekasih dari Putu Satria.Pasalnya dugaan penganiayaan yang dialami Putu itu terungkap berdasarkan percakapan antara korban dengan kekasihnya melalui pesan singkat.
"Boleh juga kami mintai keterangannya, nanti akan kami koordinasikan dengan pengacaranya," katanya.
Sebelumnya, fakta baru terungkap dari kasus penganiayaan yang menewaskan Putu Satria oleh seniornya.
Putu ternyata bukan hanya sekali dianiaya hingga akhirnya tewas.
Ternyata, dia pernah curhat ke pacarnya kalau pernah juga dipukul seniornya pada Desember 2023 lalu.
"Betul (almarhum Putu pernah curhat ke pacarnya kalau dipukul senior). Sepertinya sudah jadi kebiasaan (pukul memukul) di sana (STIP)," kata Kuasa Hukum Keluarga Putu, Tumbur Aritonang saat dihubungi, Kamis 9 Mei 2024.
Dalam foto yang diberikan Tumbur, terlihat bukti percakapan antara Putu dan pacarnya.
Terlihat pula Putu mengirimkan foto untuk memberi informasi bahwa dadanya sakit karena habis dipukul.
"Intinya (isi percakapan) 'aku dipanggil terus sama senior, dipukulin terus-terusan, sakit dadaku, ulu hati terus yang diincar', Itu artinya," ucapnya.
Bahkan, Tumbur menduga Putu memang sudah menjadi incaran para seniornya selama mengenyam pendidikan di STIP.
"Jadi dia sering diincar sama seniornya. Kasihan junior-junior di sana (STIP) jadi samsak," ungkapnya.
Sementara itu di lain sisi, sebelumnya 4 taruna STIP Jakarta yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka diklaim tak menargetkan secara khusus Putu Satria Ananta Rustika (19) untuk dijadikan korban penganiayaan.
Hal itu diungkapkan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara AKBP Hady Saputra Siagian yang mengatakan bahwa Tegar Rafi Sanjaya Cs menganiaya korban hanya karena memakai baju olahraga di kelas.
"Jadi bukan ditentukan targetnya, engga. Tapi karena memakai pakaian dinas olahraga (dianggap) salah kan, (kemudian) ditegur," ucap Hady kepada wartawan di Polres Metro Jakarta Utara, Rabu (8/5) malam.
Selain itu berdasarkan hasil penyelidikan hingga penyidikan yang pihaknya lakukan, kata Hady, ke empat tersangka itu juga diklaim baru pertama kali melakukan tindak penganiayaan.
Namun ia tak mengetahui apakah ada tindak penganiayaan serupa yang dilakukan taruna lain di kampus tersebut, lantaran sejauh ini belum ada laporan yang pihaknya terima.
"Kalau dari hasil penyelidikan iya (baru pertama kali) untuk yang bersangkutan ya (para tersangka), kalau yang lain sampai saat ini belum ada laporan," kata dia.
Meski begitu Hady pun mengaku terbuka jika memang terdapat kejadian serupa agar para korban yang mengalami untuk segera melapor kepada pihaknya.
"Belum ada, belum ada laporan. Justru kita berharap kalau memang ada terjadi seperti itu, lapor, jangan takut, lapor aja," katanya.
Ramai-ramai Hancurkan Baliho Bergambar Pelaku
Pemuda di Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan ramai-ramai menghancurkan baliho bergambar Tegar Rafi Sanjaya, terduga pelaku penganiayaan Putu Satria Ananta Rustika atau yang akrab disapa Rio.
Hal itu sebagai bentuk kemarahan rekan-rekan sepergaulan Putu Satria, dengan kejadian yang menimpa sahabat mereka.
"Kami hancurkan agar tidak ada lagi kasus seperti yang dialami sahabat kami (Putu Rio)," ungkap seorang rekan sepergaulan Putu Satria, Kadek Deo, Jumat 10 Mei 2024.
Baliho bergambar pelaku kekerasan terhadap Putu Satria itu, sengaja dipasang oleh pemuda di Desa Gunaksa, Kamis 9 Mei 2024 malam.
Baliho berukuran 4x6 meter itu bertuliskan "Senioritas Bukan pangkat untuk Membunuh".
Ketika prosesi pembakaran jenazah, para pemuda langsung menghancurkan baliho itu dengan alunan tabuh baleganjur.
Baliho itu lalu dibakar hingga hangus. Pemuda setempat mengaku marah dengan tindakan Tegar menganiaya Putu Satria.
Menurutnya, Tegar dan 3 taruna lain yang ikut berperan dalam kematian Putu Satria, sangat tidak pantas menjadi taruna STIP sebagai calon abdi negara.
Kadek Deo yang juga STT Jaya Parandhita mengatakan, dirinya terakhir bertemu dengan Putu Satria pada libur Idul Fitri.
Saat berada di rumah mereka sempat ngumpul bareng sembari membicarakan berbagai hal tentang kegiatan kepemudaan.
Mengingat Putu Satria merupakan Sekretaris STT Jaya Parandhita.
"Kami sangat berharap pelaku mendapat hukuman setimpal," ungkap dia.
Terkait baliho yang dipasang oleh rekan-rekan satu kampung Putu Satria, itu bertujuan agar semua warga mengetahui wajah orang yang diduga sebagai pelaku pembunuhan.
"Ini ide dari kami, biar masyarakat tahu ini wajah pembunuh saudara-saudara kami," ujar Kadek Kariyasa, pemuda Desa Gunaksa, Jumat 10 Mei 2024.
Pemuda di Desa Gunaksa, khususnya teman-teman nongkrong dari Putu Satria merasa sangat kehilangan pemuda berusia 19 tersebut.
"Kami berharap hukum bisa ditegakkan, saudara kami (Putu Satria) bisa mendapat keadilan," jelas dia.
Putu Satria meninggal dunia setelah mendapat kekerasan dari seniornya di STIP Jakarta, Jumat 3 Mei 2024.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian itu terjadi di toilet lantai II STIP Jakarta Utara.
Awalnya korban (Putu Satria Ananta Rustika) dan teman-temannya yang masih tingkat I, dipanggil oleh senior di tingkat II.
Seniornya yang bernama Tegar asal Bekasi, sempat menanyakan siapa yang meminta korban dan rekan-rekanya memakai pakaian olahraga ke gedung pendidikan lantai 3.
Korban dan rekan-rekannya kemudian diminta berbaris berjejer.
Kemudian tegar memukul ulu hati korban dengan tangan mengepal sebanyak 5 kali.
Hal itu membuat korban terkapar dan meninggal dunia. Polisi menetapkan 4 tersangka, terkait kasus kematian Putu Satria. (tribun bali/tribunnews/mit)
Fakta Baru Percakapan Putu Satria Sama Kekasih Via WA Beber Soal Ancaman dan Tradisi Baptis |
![]() |
---|
Beber Sang Ibu Soal Penganiaya Putu Satria yang Dari Bali: Inisial KA dan Sebut dari Jembrana |
![]() |
---|
1 Tersangka Penganiaya Putu Satria Disebut Berasal dari Bali, Rusmini Tak Mau Temui Keluarga Pelaku |
![]() |
---|
RUSMINI Tak Mau Temui Keluarga Pelaku! 1 Tersangka Penganiaya Putu Satria Disebut Berasal dari Bali |
![]() |
---|
NUNAS BAOS Keluarga Mendiang Putu Satria, Sebut Faktor Iri Hati, Sang Ibu Enggan Ketemu Tersangka |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.