Tragedi di Jembatan Bangkung

NEKAT Akhiri Hidup Terjun di Jembatan Bangkung, Pj Gubernur Bali Prihatin Minta Dinsos Fasilitasi

Pihaknya mengaku evakuasi juga cukup sulit dan memakan waktu. Pasalnya untuk turun ke bawah jembatan membutuhkan waktu.

 Ratu Ayu Astri Desiani/Tribun Bali
Foto mendiang semasa hidup Ketut Sutama (23) dan Putu Yasa Sari Dana (5). 

TRIBUN-BALI.COM – Pj Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya menyoroti kasus ulah pati (bunuh diri) yang dilakukan kakak beradik di Jembatan Bangkung, Plaga, Petang, Badung, Bali Minggu (26/5/2024) sore.

Sang Mahendra merasa prihatin dengan adanya kejadian pilu tersebut, dan meminta Dinas Sosial untuk memfasilitasi anak-anak yatim piatu yang tak terawat ke Panti Anak.

Dumogi Sang Palatara Amor ing Acintya. Saya sangat prihatin sampai terjadi peristiwa tersebut.

Melalui Kadis Sosial saya sudah arahkan, apabila anak-anak yatim piatu tidak dirawat keluarganya, dengan baik agar anak-anak tersebut difasilitasi di Panti Anak untuk memastikan masa depan,” kata Sang Mahendra, Senin (27/5/2024).

Ketika ditanya, apakah program Ngerombo nantinya juga akan melirik anak yatim piatu di Bali, Sang Mahendra berharap melalui Ngerombo berbagai persoalan pembangunan, termasuk sosial, ekonomi dan budaya dapat terindentifikasi, dipetakan dan diselesaikan bersama-sama.

“Tentu, termasuk juga bagaimana kita bersama-sama membantu anak-anak dan masyarakat, yang sedang menghadapi persoalan dalam kehidupannya agar dapat dimudahkan keluar dari persoalan tersebut,” imbuhnya.

Baca juga: KASUS Ulah Pati Jembatan Bangkung, Kakak Korban Disebut Akan Diadopsi Anak Kandung Giri Prasta

Baca juga: POLDA Bali Panggil Kepsek & Orangtua Dua Geng, Tindak Lanjut Pelajar SMP Akan Tawuran Bawa Sajam!

Sang Mahendra merasa prihatin dengan adanya kejadian pilu tersebut, dan meminta Dinas Sosial untuk memfasilitasi anak-anak yatim piatu yang tak terawat ke Panti Anak.
Sang Mahendra merasa prihatin dengan adanya kejadian pilu tersebut, dan meminta Dinas Sosial untuk memfasilitasi anak-anak yatim piatu yang tak terawat ke Panti Anak. (Tribun Bali/ Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami)

 

Kepala Dinas Sosial P3A Provinsi Bali, Luh Ayu Aryani mengatakan, pihaknya masih berkoordinasi terkait biaya untuk upacara kematian kakak beradik ini.

Jumlah Panti Asuhan di Bali milik swasta 82 panti, sedangkan milik Pemprov Bali 1 panti sehingga total panti asuhan di Bali 83 panti.

Mengikuti arahan PJ Gubernur Bali, anak-anak yatim piatu yang telantar dapat diasuh di Panti Asuhan milik Pemprov Bali. “Jika keluarga izinkan dan anak mau, kita mau asuh di panti anak kita. Terutama yang masih sekolah,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, pria muda ditemukan tewas di Jembatan Bangkung, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Minggu (25/5/2024).

Mirisnya, pemuda itu diduga nekat akhiri hidup bersama adiknya, yang diperkirakan berusia 5 tahun dengan lompat dari atas Jembatan Bangkung.

Sontak warga Desa Plaga gempar melihat tragedi ulah pati itu. Bahkan sejumlah warga yang melintas di jalan Raya Tukad Bangkung juga ikut berhenti melihat ke bawah jembatan. Kejadian ulah pati itu diperkirakan terjadi sekitar pukul 16.45 Wita.

Evakuasi - Sontak warga Desa Plaga gempar melihat tragedi ulah pati itu. Bahkan sejumlah warga yang melintas di jalan Raya Tukad Bangkung juga ikut berhenti melihat ke bawah jembatan. Kejadian ulah pati itu diperkirakan terjadi sekitar pukul 16.45 Wita.
Evakuasi - Sontak warga Desa Plaga gempar melihat tragedi ulah pati itu. Bahkan sejumlah warga yang melintas di jalan Raya Tukad Bangkung juga ikut berhenti melihat ke bawah jembatan. Kejadian ulah pati itu diperkirakan terjadi sekitar pukul 16.45 Wita. (ISTIMEWA)

Dari informasi yang digali di Polsek Petang, ternyata memang benar ada pemuda yang diduga bersama adiknya melakukan aksi nekat akhiri hidup dengan cara melompat dari Jembatan Bangkung.

Sampai Minggu malam masih dilakukan evakuasi. "Iya tadi sore diduga ada yang bunuh diri dengan terjun dari jembatan bersama adiknya. Karena jasad yang ditemukan dua orang laki-laki," ujar seorang polisi.

Pihaknya mengaku evakuasi juga cukup sulit dan memakan waktu. Pasalnya untuk turun ke bawah jembatan membutuhkan waktu.

Dijelaskannya, pemuda yang ulah pati itu berinisial Ketut S (23) asal Banjar Dinas Rendetin, Kubutambahan, Singaraja. Namun adiknya belum diketahui identitasnya, namun diperkirakan berumur 4 atau 5 tahun.

Keprihatinan Pj Gubernur Bali disampaikan melalui bantuan uang tunai Rp 5 juta yang diberikan melalui petugas Dinas Sosial Provinsi Bali di rumah duka di Banjar Dinas Rendetin, Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Senin (27/5).

Kepala Dinas Sosial Buleleng, I Putu Kariaman mengatakan, bantuan ini diberikan Pj Gubernur Bali untuk membantu biaya upacara pitra yadnya kedua almarhum.

Serta untuk membantu kakak almarhum, yang dalam kondisi disabilitas fisik dan mental. "Kami mendampingi Dinsos Provinsi menyerahkan bantuan langsung tunai dari Pj Gubernur Bali Rp 5 juta.

Bantuan diserahkan kepada keluarga almarhum untuk membantu biaya keperluan upakara dan kakaknya yang kondisinya mengalami disabilitas," ujarnya.

Dinas Sosial Bali menyerahkan bantuan, dari Pj Gubernur Bali untuk keluarga kakak dan adik yang ulah pati di Jembatan Bangkung, Senin (27/5)
Dinas Sosial Bali menyerahkan bantuan, dari Pj Gubernur Bali untuk keluarga kakak dan adik yang ulah pati di Jembatan Bangkung, Senin (27/5) (Ratu Ayu Astri Desiani/ Tribun Bali)

Sementara itu, anak kandung Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta disebut-sebut akan mengadopsi Luh Somotini, kakak pertama dari dua korban ulah pati di Jembatan Bangkung.

Perbekel Desa Bontihing I Gede Pawata, Senin (27/5) mengatakan, kabar rencana anak Giri Prasta untuk mengadopsi Luh Somotini ini diterima oleh Kelian Banjar Dinas Rendetin, I Made Artana.

Adopsi ini dilakukan sebagai rasa empati mengingat Somotini mengalami disabilitas fisik dan mental. Sementara kedua orangtuanya telah lama meninggal dunia.

Selama ini, kebutuhan sehari-hari Somotini dipenuhi oleh adik ketiganya, Ketut S (23). Sementara adik keduanya telah menikah.

Namun sayang, Ketut S yang semula menjadi tulang punggung keluarga kini telah tiada. Ketut S memutuskan mengakhiri hidupnya dengan mengajak adik bungsunya Putu YSD (5), di Jembatan Bangkung, Desa Pelaga.

Namun Pawata mengaku belum mengetahui secara pasti siapa yang mengadopsi Somotini, mengingat Giri Prasta dikaruniai tiga orang anak, masing-masing bernama Diana Prasta, Bima Nata dan Sundari Dewi.

Pawata menyebut saat ini dirinya akan berdiskusi terlebih dahulu dengan keluarga besar almarhum, apakah mengizinkan Somotini untuk diadopsi oleh anak Giri Prasta atau tidak.

"Kami komunikasikan dulu dengan keluarga almarhum. Jika sudah ada kesepakatan, akan kami sampaikan ke anaknya Giri Prasta.

Belum tau juga anaknya yang mana yang akan mengadopsi Somotini. Adopsi dalam artian akan dipenuhi kebutuhan sehari-harinya atau seperti apa, ini akan kami pertanyakan lagi," katanya.

Pihak keluarga menduga Ketut S nekat mengajak adik bungsunya mengakhiri hidup karena permasalahan ekonomi. Kakak ipar almarhum, Ni Luh Resmini (27) mengatakan, Ketut S merupakan sosok yang pendiam.

Sehari-hari ia hanya menghabiskan waktu di rumah sederhana yang terletak di tengah perkebunan Banjar Dinas Rendetin, Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan.

Ia merawat kakak sulungnya, Luh Somotini yang mengalami disabilitas fisik dan mental, serta adik bungsunya Putu YSD yang mengalami gizi buruk.

Suasana Rumah Duka
Suasana Rumah Duka (Ratu Ayu Astri Desiani/ Tribun Bali)

 

Sejak ayah dan ibunya meninggal dunia, Ketut S sempat bekerja di sebuah bengkel wilayah Kabupaten Badung selama empat bulan.

Namun ia kerap mengalami sakit, sehingga memutuskan untuk pulang ke kampung halaman, mengurus kakak sulung dan adik bungsunya.

Resmini menyebut, sejak tinggal di kampung halaman Ketut S jarang berinteraksi dengan keluarga besarnya, serta keluar rumah.

Untuk menghidupi kakak dan adiknya, Ketut S membuka jasa memperbaiki barang-barang elektronik milik warga sekitar dengan harga seikhlasnya.

"Dia (Ketut S) tidak pernah pasang tarif. Kalau ada yang membayar lebih, dikembalikan sama dia. Orang yang datang ke rumahnya, jadi barang-barang elektronik itu dia perbaiki di rumahnya. Dia jarang keluar rumah. kalau pun keluar, paling hanya ke warung," jelas Resmini.

Ketut S yang mulanya terkenal pendiam itu kemudian tiba-tiba curhat kepada keluarga besarnya sehari sebelum ditemukan ulah pati.

Ia mengaku bingung dan capek. Resmini pun mengaku tidak menyangka jika akhirnya Keut S nekat mengajak adik bungsunya mengakhiri hidup.

"Mungkin dia merasa putus asa sejak orangtuanya meninggal. Harus jadi tulang punggung untuk kakak dan adiknya. Tapi setahu kami, Sutama ini tidak pernah punya utang. Tidak mau meminjam uang sama keluarganya juga. Dia ingin mandiri," ungkap Resmini.

Ditambahkan Resmini, seluruh keluarga tidak tau saat Sutama pergi bersama adik bungsunya ke Desa Pelaga. Namun berdasarkan penelusuran keluarga, sebelum berangkat ke Desa Pelaga tepatnya pada Minggu (26/5) sekitar pukul 15.00 Wita, Sutama rupanya sempat berutang bensin di salah satu warung Banjar Dinas Rendetin.

Jenazah kakak dan adik telah dimakamkan di Setra Desa Adat Rendetin Bontihing, Senin (27/5) pukul 03.00 Wita. Perbekel Desa Bontihing I Gede Pawata mengatakan, jenazah kakak beradik itu tidak sempat dibawa ke rumah duka.

Jenazahnya langsung dibawa ke setra untuk dimandikan dan dimakamkan, mengingat meninggal dunia akibat ulah pati.

Aparat Polsek Petang belum mengetahui pasti penyebab pasti pemuda asal Singaraja bunuh diri bersama adiknya. Kasi Humas Polres Badung Ipda Putu Sukarma mengatakan kejadian bunuh diri itu terjadi sekitar pukul pukul 16.45 Wita.

Pihaknya mengaku ada dua korban yakni Ketut S (23) asal Banjar Dinas Rendetin, Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan. Dia bunuh diri bersama adik kandungnya Putu YSD (5).

“Sebelum kejadian ada saksi mata yang melihat pemuda itu bersama adiknya di Jembatan Tukad Bangkung,” ucapnya, Senin.

Menurut saksi I Made Wirawan (29) Ketut Sutama bersama adiknya sempat diam di sampingnya. Namun selang beberapa menit setelah melihat kembali sudah tidak ada lagi di samping.

“Jadi saat saksi ini melihat kembali dua pemuda itu, sudah hilang, dan diduga melakukan bunuh diri dengan cara melompat ke Sungai Ayung/Tukad Bangkung,” bebernya. (sar/rtu/gus)

 

Komunitas 10 Ribu Mimpi Kumpulkan Donasi

TEWASNYA kakak beradik asal Banjar Dinas Rendetin, Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng mengetuk hati sejumlah pihak. Selain karena tewas akibat ulah pati, kedua korban rupanya merupakan warga kurang mampu.

Prihatin atas kondisi tersebut, pegiat sosial Komunitas 10 Ribu Mimpi yang diinisiasi oleh Ary Ulangun membuka donasi untuk kedua korban. Donasi dibuka sejak Minggu (26/5).

Kepada Tribun Bali, Ary Ulangun menyebut, hingga Senin (27/5) siang, jumlah donasi yang terkumpul sudah Rp 90 juta.

Donasi itu diberikan untuk memenuhi kebutuhan Upacara Pitra Yadnya. "Jenazah keduanya kan sudah dikubur Senin dini hari karena ulah pati. Jadi donasi ini akan kami berikan untuk biaya upacara selanjutnya. Kalau masih ada sisa, akan kami berikan juga untuk kakak pertamanya yang mengalami disabilitas," jelas Ary.

Ditambahkan Ary, donasi ini rencananya dibuka selama tiga hari, atau akan ditutup Selasa (28/5). "Kami akan bertemu dulu dengan keluarga almarhum. Kalau dana yang Rp 90 juta ini sudah cukup, donasi akan kami tutup," tandasnya.

Kakak beradik yang melakukan bunuh diri di Jembatan Tukad Bangkung Plaga itu terdata sebagai warga kurang mampu di Desa Bontihing, Kubutambahan.

Rupanya terdapat salah satu relawan dari Komunitas Lentera Hati yakni Ni Luh Getas yang sempat memberikan bantuan sembako dan uang tunai serta mengunjungi rumah Ketut S, 3 Mei 2024 lalu.

Ni Luh Getas menyampaikan kondisi memprihatinkan yang dialami oleh keluarga ini sebelum tragedi terjadi.

Keseharian mereka sepeninggal kedua orangtua hanya hidup bertiga dengan kakak perempuan mereka yang kondisinya cacat fisik.

"Iya, waktu itu saya ke sana hanya memberikan sembako dan uang cash. Kalau jumlah uangnya saya lupa karena teman-teman yang ikut juga memberikan uang," kata Getas, Senin (27/5).

Menurut relawan asal Karangasem ini, rumah yang dihuni oleh anak-anak ini berada dalam kondisi yang sangat tidak layak.

“Waktu itu dapat bedah rumah kata Pak Kadus. Jadi saya tanya, 'Oh ini bedah rumah gitu,' dan banyak bekas-bekas TV yang rusak.

Bapaknya dulu tukang service TV. Dan setelah bapaknya meninggal, anak laki-lakinya yang melanjutkan. Saat saya ke sana, dia kebetulan tidak ada di rumah. Hanya ada kakaknya yang cacat dan adik yang paling kecil,” imbuhnya.

Getas menerangkan, kakak perempuan Luh Somotini yang cacat tersebut sebelumnya mengalami kecelakaan. Kondisi ini yang menyebabkan pertumbuhannya tidak berkembang.

"Dia pernah jatuh. Jadi kondisinya seperti itu. Tidak bisa berkembang," ungkapnya.

Saat ini, lantaran dua saudaranya ditemukan telah tiada, Luh Somotini harus hidup sebatang kara. Getas juga menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan oleh berbagai komunitas sosial adalah sumber utama kehidupan mereka.

"Kalau makan dari mana, ada aja yang seperti saya dan komunitas-komunitas yang mau menengok ke sana. Kalau tidak ada, mungkin mereka tidak bisa makan. Dari postur tubuhnya kelihatan si adik kecil itu tidak terurus,” imbuhnya.

Getas menyebutkan, kondisi mereka sebelumnya tidak bersekolah. Pun demikian anak malang yang berusia paling kecil masih berumur 5 tahun. Kondisi ekonomi yang sangat buruk serta tidak adanya kerabat yang dekat membuat kehidupan mereka semakin sulit. Kematian ibu mereka juga menambah beban hidup yang harus mereka tanggung. "Mereka enggak ada paman atau kerabat yang lain. Lokasinya pun lumayan di pelosok,” ucapnya.

Komunitas Lentera Hati dan masyarakat sekitar kini berupaya menggalang dana dan memberikan bantuan kepada kakak perempuan yang ditinggalkan. Bantuan terus mengalir dari berbagai pihak yang prihatin dengan kondisi tragis yang dialami oleh keluarga ini. (rtu/sar)

 

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved