Tragedi di Jembatan Bangkung
Curhatan Korban Ulah Pati Jembatan Bangkung Terungkap, Ini Penyebab Anak Giri Prasta Ingin Adopsi?
Curhatan Korban Ulah Pati Jembatan Bangkung Terungkap, Ini Penyebab Anak Giri Prasta Ingin Adopsi?
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Duka mendalam dirasakan oleh keluarga Ketut Sutama (23) dan Putu Yasa Sari Dana (5) yang tewas ulah pati di Jembatan Bangkung, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung, Senin (27/5).
Pihak keluarga menduga Sutama nekat mengajak adik bungsunya untuk mengakhiri hidup di Jembatan Bangkung, Badung lantaran permasalahan ekonomi.
Kakak ipar almarhum, Ni Luh Resmini (27) yang ditemui di Buleleng mengatakan, Sutama merupakan sosok yang pendiam.
Baca juga: Fenomena Gangster Dibawah Umur di Denpasar Bali, Dilengkapi Pedang, Teroganisir di Grup WhatsApp
Sehari-hari ia hanya menghabiskan waktu di rumah sederhana yang terletak di tengah perkebunan Banjar Dinas Rendetin, Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng.
Ia merawat kakak sulungnya bernama Luh Somotini yang mengalami disabilitas fisik dan mental, serta adik bungsunya Putu Yasa yang mengalami gizi buruk.
Sejak ayah dan ibunya meninggal dunia, Sutama sempat bekerja di sebuah bengkel wilayah Kabupaten Badung selama empat bulan.
Baca juga: Selamat Jalan Ketut Sutama dan Putu Yasa, 2 Jenazah Berpelukan di Jembatan Bangkung Badung
Namun ia kerap mengalami sakit, sehingga memutuskan untuk pulang ke kampung halaman, mengurus kakak sulung dan adik bungsunya.
Resmini menyebut, sejak tinggal di kampung halaman Sutama jarang berinteraksi dengan keluarga besarnya, serta keluar rumah.
Untuk menghidupi kakak dan adiknya, Sutama membuka jasa memperbaiki barang-barang elektronik milik warga sekitar dengan harga seikhlasnya.
"Dia (Sutama) tidak pernah pasang tarif. Kalau ada yang membayar lebih, dikembalikan sama dia. Orang yang datang ke rumahnya, jadi barang-barang elektronik itu dia perbaiki di rumahnya. Dia jarang keluar rumah, kalau pun keluar paling hanya ke warung," jelas Resmini.
Sutama yang mulanya terkenal pendiam itu kemudian tiba-tiba curhat kepada keluarga besarnya saat sehari sebelum ditemukan ulah pati.
Ia mengaku bingung dan capek.
Resmini pun mengaku tidak menyangka jika akhirnya Sutama nekat mengajak adik bungsunya untuk mengakhiri hidup, dengan terjun dari Jembatan Bangkung.
"Mungkin dia merasa putus asa sejak orangtuanya meninggal. Harus jadi tulang punggung untuk kakak dan adiknya. Tapi setahu kami, Sutama ini tidak pernah punya utang. Tidak mau meminjam uang sama keluarganya juga. Dia ingin mandiri," ungkap Resmini.
Ditambahkan Resmini, seluruh keluarga tidak tau saat Sutama pergi bersama adik bungsunya ke Desa Pelaga.
PASCA Kakak Adik Nekat Akhiri Hidup di Tukad Bangkung, Pemkab Akan Gelar Upacara Karipuhbaya! |
![]() |
---|
Sekitar 49 Yatim Piatu Terdata Dinsos Tabanan, Dalam Pengawasan dan Masih Mendapatkan Bantuan |
![]() |
---|
Kasus Kakak Beradik di Buleleng Akhiri Hidup di Jembatan Bangkung, Ini 'Tamparan' Bagi Pemerintah |
![]() |
---|
KAKAK Sutama, Korban Ulah Pati di Jembatan Bangkung Akan Dibantu Dinsos Buleleng, Simak Beritanya! |
![]() |
---|
SEDIH, Sebelum Ulah Pati di Jembatan Bangkung, Sutama Sempat Ngutang Bensin di Warung |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.