Berita Klungkung

Penantian Setengah Abad! Karya Ngenteg Linggih Pura Manik Mas Nyanglan, Upacara Terakhir Pada 1958

Upacara sakral ini terakhir digelar oleh desa adat setempat pada tahun 1958 silam, dan baru kembali dilaksanakan kembali tahun ini.

TRIBUN BALI/EKA MITA SUPUTRA
UPACARA - Krama Subak Desa Adat Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung menggelar Karya Ngenteg Linggih, Mupuk Pedagingan Lan Padudusan Agung di Pura Manik Mas, Sabtu (31/8). Upacara sakral ini terakhir digelar oleh desa adat setempat pada tahun 1958 silam. 

“Lanjut cerita, Tedun Bhatari Sri (manifestasi Tuhan), berkenan untuk bersetana bersama dengan Bhatari Sedana yang sudah melinggih di Pura Manik Mas sesuai nama yang sekarang kita kenal. Dan Bhatari Sri tidak berkenan Linggih pura ini menggunakan Gelung Kori maka sampai saat ini di Pura Manik Mas, Pemedalnya menggunakan Candi Bentar (Lambang Purusa Predana atau Lambang Kesuburan),” ujar Kelian Subak Desa Nyanglan, I Nengah Sukerasta. 

Pada awalnya dulu, nama Pura Manik Mas kemungkinan disebut dengan nama Pura Manim Embas. “Dan karena sengau bahasa menjadi Manik Mas. Mungkin ini yang mengakibatkan dulu warga yang hamil atau ngadut manik (hamil) takut sembahyang di Pura Manik Mas karena takut keguguran atau embas. Masyarakat meyakini itu,” jelas Sukerasta.

Hal tersebut diyakini masyarakat setempat secara turun-menurun sampai saat ini. Sehingga masyarakat yang sedang hamil (ngadut manik), selama ini tidak berani memasuki areal pura.

 Konon diyakini akan terjadi musibah terhadap kehamilannya atau maniknya keguguran (Manik Embas). Termasuk pada upacara saat ini, ibu-ibu hamil tidak diperkenankan masuk ke kawasan Pura Manik Mas. (mit)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved