Berita Klungkung

BANJIR Rawan di Kusamba Klungkung, Normalisasi Alur Sungai Rawan Banjir Harus Dianggarkan Per Tahun

Sehingga saat hujan deras, air tidak dapat mengalir dengan lanjar ke laut. Namun meluber ke pemusikan warga. 

ISTIMEWA
BANJIR – Sejumlah warga menyelamatkan harga bendanya ketika banjir akibat meluapnya air sungai di Desa Kusamba tahun 2022 lalu. 

TRIBUN-BALI.COM  - Permasalahan banjir yang sering terjadi di Desa Kusamba, menjadi perhatian anggota DPRD Klungkung.

Mengingat setiap musim hujan, beberapa kawasan di Desa Kusamba sering tergenang banjir lantaran pendangkalan sejumlah sungai yang bermuara ke Pantai Kusamba

Anggota DPRD meminta anggaran untuk normalisasi sungai, digolontorkan setiap tahun. Sehingga penanganan banjir dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Anggota DPRD Klungkung, I Nyoman Alit Sudiana menjelaskan, banjir yang terjadi hampir setiap musim hujan di wilayah Klungkung khususnya di Desa Kusamba diakibatkan oleh pendangkalan sungai-sungai di daerah Kusamba, seperti sungai Candigara dan Sungai Lobong.

Baca juga: JOGED JARUH Resmi Dilarang!  Pemprov Bali Keluarkan SE, Majelis Kebudayaan Terbitkan Ilikita

Baca juga: TRAGIS! Ayu Terlindas Bus di Desa Sibang Gede, Mahasiswi Asal Gianyar Meninggal Dunia Kecelakaan

Sehingga saat hujan deras, air tidak dapat mengalir dengan lanjar ke laut. Namun meluber ke pemusikan warga. 

Penanganan dengan cara normalisasi alur sungai dilakukan saat telah terjadi banjir. Sementara program untuk pencegahan banjir terjadi kembali, masih minim dari pemerintah.

“Mohon kepada eksekutif berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait seperti BWS (balai wilayah sungai) Bali Penida, atau Dinas Lingkungan Hidup dan pihak lainnya agar penanganan terkait pemeliharan dan normalisasi bisa dianggarkan setiap tahun anggaran. 

Sehingga jangan sampai menunggu terjadinya musibah banjir terlebih dahulu, baru melakukan Tindakan,” ungkap Nyoman Alit Sudiana, Jumat (15/11).

Selain itu ia juga menyoroti abrasi pantai yang kian parah di pesisir Pantai Monggalan di Desa Kusamba. Menurutnya abrasi sudah mengikis bibir pantai sejauh 40-50 meter. 

“Ini sangat berbahaya sekali terhadap masyarakat yang mempunyai rumah di sepajang bibir pantai, apalagi terdapat para petani garam di sana,” ujar Nyoman Alit Sudiana.

Ia mendorong Penjabat (Pj.) Bupati Klungkung untuk menangani abrasi itu, dengan melanjutkan pembangunan pemecah ombak. 

“Tetapi mohon juga diperhatikan ketika pembangunan pemecah ombak dilakukan, mohon dipikirkan terkait fasilitas penambatan jukung-jukung nelayan agar tidak terganggu. Mohon bupati menindaklanjuti dan berkoordinasi dengan pihak BWS terkait permasalahan abrasi ini,” ungkap Nyoman Alit.

Sementara itu Pj. Bupati Klungkung I Nyoman Jendrika menjelaskan, terkait dengan banjir yang terjadi di Desa Kusamba, Sungai Candigara dan Sungai Lobong sebelumnya telah pernah ditangani pengerukan sebanyak dua kali. 

Ke depannya akan diusulkan kembali ke BWS Bali Penida penanganan pengerukan di dua lokasi tersebut untuk mencegah banjir di musim penghujan.

Sementara terkait abrasi di Pantai Monggalan, telah dilakukan usulan di tahun sebelumnya penanganan abrasi sepanjang Pantai Karangdadi sampai dengan Goa Lawah dengan menyesuaikan kondisi pantai setempat dan diharapkan tidak mengabaikan potensi ekonomi pantai setempat.

“Untuk penanganan ke depan juga telah dilaporkan terhadap abrasi kondisi Pantai Monggalan terkini, untuk diusulkan agar bisa ditangani oleh BWS Bali Penida sekaligus sebagai data series kondisi agar penanganan yang dilakukan ke depan bisa tepat,” jelas dia. (mit)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved