Pilkada Bali 2024

BUNTUT Wakili Istri Mencoblos, KPU Gianyar Gelar PSU di TPS 1 Tulikup! Pilkada Bali Gak Capai Target

Pantauan Tribun Bali, pemilihan yang digelar di bale banjar itu mendapatkan pengawalan ketat dari aparat kepolisian.

Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
COBLOS ULANG – Seorang warga memasukan surat suara pada pencoblosan ulang atau pemilihan suara ulang (PSU) di TPS 1 Tulikup, Kabupaten Gianyar, Selasa (3/12). 

Angka Golput di Bali saat Pilkada Bali 2024 sangat tinggi, menembus 983.556 pemilih. Angka ini diperoleh dari rekapan C Hasil Salinan yang dirilis DPD PDI Perjuangan (PDI P) Bali dari 6.795 TPS atau 100 persen TPS yang ada di Bali dan bukan merupakan angka resmi yang dirilis oleh KPU Bali. Bahkan jumlah Golput tersebut mengalahkan suara dari Pasangan Calon (Paslon) nomor 1 Made Muliawan Arya – Putu Agus Suradnyana (Mulia-PAS).

Dari data sementara diketahui, Paslon Mulia-PAS meraih 528.231 suara, Paslon 02 Wayan Koster-I Nyoman Giri Prasta (Koster-Giri) meraih 1.41.284 suara. Sementara itu, Daftar Pemilih Tetap atau DPT yang dirilis KPU Bali sebanyak 3.283.893 orang.

Sehingga ada sebanyak 983.556 orang yang memilih Golput meskipun beberapa dari mereka datang langsung ke TPS. Maka dari itu, persentase Golput pada Pilkada 2024 ini mencapai 29,9 persen. Mengacu pada target KPU Bali terkait angka partisipasi pemilih minimal 75 persen pada Pilkada ini tak akan tercapai.

Anggota KPU Bali, I Gede John Darmawan saat dikonfirmasi menjelaskan, tingkat partisipasi pemilih dalam Pilkada Bali 2024 baru bisa diketahui secara pasti usai rekapitulasi di tingkat kecamatan setelah 3 Desember 2024. Meskipun begitu, dari hitungan awal KPU, beberapa daerah di Bali memiliki partisipasi pemilih di atas 75 persen. Di mana 75 persen merupakan target minimal dari KPU Bali untuk tingkat partisipasi pemilih pada Pilkada ini. 

Namun ada juga beberapa daerah yang masih di bawah target minimal. “Hitungan kasar, tetapi belum angka pasti, ada yang di atas 75 persen,” kata John Darmawan.

Untuk yang di atas 75 persen yakni Kabupaten Gianyar, Badung, Bangli, dan Tabanan. Namun ada juga yang di bawah 60 persen. Pihaknya pun akan melakukan evaluasi kenapa tingkat partisipasi bisa rendah. John Darmawan menduga hal itu dikarenakan beberapa daerah sempat diguyur hujan lebat pukul 08.00-10.00 Wita. Sehingga hal itu kemungkinan bisa mengurangi antusias masyarakat ke TPS. 

Sedangkan untuk tingkat partisipasi terendah adalah Kota Denpasar, dengan hitungan kasar 57,9 persen. “Itu baru hitungan kasar. Namun di Denpasar sebenarnya ada kenaikan 3 persen dibandingkan di Pilkada 2020 yang hanya 54 persen,” paparnya. (weg/mpa/mer/mit)

Masyarakat saat menentukan pilihan calon kepala daerah di TPS pada Pilkada 2024, Rabu 27 November 2024 - Tingkat Partisipasi Masyarakat Buleleng Dalam Pilkada Belum Bisa Tembus 70 Persen
Masyarakat saat menentukan pilihan calon kepala daerah di TPS pada Pilkada 2024, Rabu 27 November 2024 - Tingkat Partisipasi Masyarakat Buleleng Dalam Pilkada Belum Bisa Tembus 70 Persen (Tribun Bali/Muhammad Fredey)

Terbentur Kegiatan Adat di Hari H Pencoblosan 

Ketua KPU Kabupaten Klungkung, I Ketut Sudiana menyatakan, rendahnya partisipasi ini disebabkan oleh berbagai faktor. Satu di antaranya banyaknya kegiatan adat yang bertepatan dengan hari H pencoblosan pada 27 November 2024.

Beberapa desa di Kecamatan Banjarangkan, misalnya, menggelar upacara adat besar seperti penyineban Ida Bhatara Pura Agung Kentel Gumi yang merupakan bagian dari rangkaian Karya Ngusaba dan Tawur Labuh Gentuh yang hanya dilakukan setiap 10 tahun sekali.

“Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Nusa Penida. Banyak warga yang melaksanakan upacara adat seperti Pitra Yadnya atau Ngaben, sehingga tidak sempat datang ke tempat pemungutan suara (TPS),” jelas Sudiana, Selasa (3/12).

Sudiana menambahkan, meskipun hari pencoblosan telah ditetapkan sebagai hari libur nasional, banyak pegawai swasta yang tidak dapat meliburkan diri dari pekerjaan. Hal ini diduga turut menghambat kehadiran pemilih. 

Sementara itu, Ketua KPU Jembrana, I Ketut Adi Sanjaya menjelaskan, berbagai faktor menjadi penyebab menurunnya Parmas tahun ini.

Kemudian pada saat pemuktahiran data sebelumnya, petugas menerapkan sistem de jure. Sehingga, masih banyak warga yang berada di luar daerah kemudian meninggal dunia masih tercantum di data. Terutama untuk warga yang meninggal dan administrasinya belum lengkap masih masuk ke data pemilih. 

“Selain itu, banyak pemilih yang bekerja di luar wilayah sehingga saat hari pemilihan tidak bisa datang. Berbeda dengan Pilkada 2020 lalu yang masih pada situasi pandemi sebagian besar warga berada di rumah,” jelasnya. 

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved