Berita Buleleng

Pemda Buleleng Libatkan Undiksha Dalam Penanganan Masalah Membaca Siswa SMP

Pemda Buleleng Libatkan Undiksha Dalam Penanganan Masalah Membaca Siswa SMP

Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Sekda Buleleng, Gede Suyasa 

 


TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Kendala membaca yang dialami para siswa SMP di Buleleng mulai ditindaklanjuti.

Terbaru, Pemerintah Kabupaten Buleleng menggandeng sejumlah instansi pendidikan, dan akan segera melakukan screening untuk menentukan kategori siswa.

Sekretaris Daerah (Sekda) Buleleng, Gede Suyasa menyebut kendala membaca pada siswa SMP di Buleleng merupakan masalah serius yang harus segera ditangani. Ia mengatakan langkah awal berupa asesmen langsung terhadap siswa sudah dilakukan.

Baca juga: Pemkab Klungkung Segera Review Ulang Dokumen FS Pembangunan Pelabuhan Kusamba

Hasilnya, lanjut Sekda Suyasa, tercatat ada 375 siswa dari seluruh SMP di Buleleng mengalami kendala membaca. Angka ini setara dengan 0,01 persen dari total siswa SMP sebanyak 34.000 siswa. 

Menurut Sekda Suyasa, masalah ini bukan semata-mata muncul di SMP, tetapi merupakan akumulasi dari proses pendidikan di tingkat dasar.

Baca juga: DPRD Badung Sidak Eden Hotel, Terkait Administrasi Perizinan, Infrastruktur dan Perpajakan

Hasilnya ditemukan beberapa siswa kelas IV hingga VI SD yang belum menguasai keterampilan dasar membaca dan menulis. "Kami menginput data dari SD agar intervensi bisa dilakukan sejak dini," ungkapnya, Rabu (30/4/2025). 


Menyikapi masalah ini, pihaknya telah menggelar rapat penyusunan strategi, untuk merumuskan langkah dalam menangani masalah siswa yang belum lancar membaca. 


Sebagai upaya tindaklanjut, Pemkab Buleleng menggandeng Tim dari Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja. Setiap siswa nantinya akan didampingi secara intensif oleh tim relawan dari FIP Undiksha


Menurut Sekda Suyasa, gaya belajar disekolah bersifat klasikal. Di mana semua siswa dalam satu kelas, mendapatkan perlakuan belajar mengajar yang sama. Dalam pendampingan ini, para guru juga ikut mendampingi untuk mengetahui persoalan yang dihadapi siswa secara personal. 


"Tetapi ada yang berkebutuhan khusus, ini yang membutuhkan perlakuan tertentu yang tepat, oleh karena itu timnya sudah ada. Disdik akan melakukan kerjasama dengan FIP untuk melakukan pendampingan dalam jangka panjang sehingga tidak tiap tahun kita menghadapi potensi begini tanpa solusi," tegasnya.  


Sekda Suyasa menginstruksikan agar asesmen (screening) dilakukan mulai pekan depan. Screening akan menentukan apakah siswa termasuk difabel, disleksia, kurang motivasi, gaya belajar atau variabel lainnya. "Darisana akan ditentukan langkah-langkah pendekatan yang dilakukan oleh tim Undiksha," ujarnya.


Bagi siswa yang terkategori difabel, lanjut Sekda Suyasa, nantinya akan difasilitasi untuk mendapat pendampingan di Sekolah Luar Biasa (SLB), yang dikelola pemerintah Provinsi Bali. Pihaknya secara rutin akan melakukan evaluasi terkait dengan strategi ini. 


"Mereka (siswa difabel) akan dimasukkan kedalam asrama. Begitu juga dengan anak-anak yang lambat membaca perhitungannya satu atau dua bulan mereka bisa lebih lancar. Ini akan terus kita pantau," terangnya.


Sementara, Dekan FIP Undiksha, I Wayan Widiana mengatakan pihaknya secara internal sudah membentuk dua tim, yakni tim pendampingan ahli dan tim lapangan. Tim Pendampingan Ahli ini terdiri dari dosen, pakar di bidang pendidikan yang ada di FIP termasuk di lingkungan Undiksha

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved