Berita Buleleng
Gelar FGD Terkait Masalah Calistung di Buleleng, Kredo Luluskan Siswa Harus Dihapuskan
Permasalahan siswa belum lancar membaca, menulis, dan menghitung (calistung) di Buleleng, terus menjadi perbincangan hangat.
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Gelar FGD Terkait Masalah Calistung di Buleleng, Kredo Luluskan Siswa Harus Dihapuskan
TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Permasalahan siswa belum lancar membaca, menulis, dan menghitung (calistung) di Buleleng, terus menjadi perbincangan hangat.
Dewan Pendidikan Buleleng pun menggelar focus group discussion (FGD) untuk mengurai masalah serta mencegah masalah berulang tiap tahun.
Baca juga: MARAK Akses Situs Po12no, Pemkab Buleleng Bentuk Gugus Tugas Pencegahan, Segera Sidak ASN dan Siswa!
Diskusi melibatkan para komponen di bidang pendidikan.
Termasuk para akademisi. Hadir pula I Ketut Trika Adi Ana yang merupakan akademisi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) yang meneliti soal disleksia.
Melalui diskusi ini, peserta sepakat perlu proses skrining kepada anak-anak sekolah.
Baca juga: Pemda Buleleng Libatkan Undiksha Dalam Penanganan Masalah Membaca Siswa SMP
Utamanya pada kelas 1-3 SD. Sehingga guru bisa mengambil langkah yang tepat dalam proses pembelajaran.
Ketua Dewan Pendidikan Buleleng, Made Sedana mengatakan, skrining pada kelas-kelas awal sangat diperlukan.
Baca juga: MUNDUR Ketua DPW PSI Bali dan Pengurus PSI Buleleng Kompak, Adi Susanto Fokus Urus Sekolah
Sehingga guru bisa memberikan treatment yang tepat kepada siswa, apabila ditemukan kendala belajar.
"Selain melakukan skrining, Dewan Pendidikan juga akan merekomendasikan penempatan guru Bimbingan Konseling di sekolah dasar."
"Upaya ini untuk lebih memudahkan para guru menemukan faktor lain yang memicu siswa tidak lancar membaca dan menulis," kata Sedana, Minggu (4/5/2025).
Baca juga: BPBD Gianyar Beri Ilmu ke Siswa, Yayasan IDEP & Mitra Gelar Simulasi Evakuasi Mandiri di Sekolah
Lebih lanjut dikatakan, sesuai aturan, sekolah tidak boleh menolak siswa disabilitas.
Masalahnya, Sumber Daya Manusia (SDM) guru belum memadai untuk melayani siswa dengan kebutuhan khusus.
"SDM belum siap, sarana prasarana juga belum lengkap. Jadi kalau memang sekolah wajib menerima siswa inklusi, maka guru juga perlu mendapat pelatihan," tegasnya.
Baca juga: MIRIS Siswa SD & SMA Drop Out, Ketua DPRD Buleleng Ungkap Kasus Ini, Ada Broken Home - Kawin Muda
Rekomendasi lainnya, guru dan kepala sekolah harus menghapus kredo bahwa sekolah harus meluluskan siswa.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.