Baca Berita Buruk Bahaya untuk Kesehatan Mental, Psikolog Sarankan Ini
Mengikuti perkembangan berita memang penting, terutama terkait dengan informasi terkini tentang kesehatan.
TRIBUN-BALI.COM - Mengikuti perkembangan berita memang penting, terutama terkait dengan informasi terkini tentang kesehatan.
Walau demikian, konsumsi berita berlebihan bisa berpengaruh pada fisik, emosi, dan kesehatan mental.
Para ahli mengingatkan, berita atau informasi negatif yang terus-menerus kita terima dapat meningkatkan kadar stress dan kecemasan.
Gejala stress yang mungkin tidak kita sadari misalnya saja susah tidur, tidak nafsu makan, takut dan cemas dengan kesehatan kita dan orang-orang tercinta, serta sulit berkonsentrasi.
Stres tersebut bisa dipicu oleh berita tentang Covid-19 yang kita ikuti setiap hari, setiap jam, bahkan setiap menit.
• KNPI Gianyar Rancang Aplikasi Konsultasi Covid-19, Terhubung Langsung dengan Dokster Spesialis
• BBPOM Berikan Penjelasan Terkait Penggunaan Hand Cleansing Gel
• Masuk ke Banjar Binoh Kaja Denpasar Tanpa Menggunakan Masker Langsung Dipulangkan
Bisa dari televisi, internet, atau pun media sosial dan grup percakapan.
“Sayangnya banyak berita-berita yang kita konsumsi setiap hari tidak dilaporkan dengan cara untuk mencegah orang tidak kecanduan,” kata psikolog Logan Jones.
Karena berita-berita utama yang sensasional, menurut Jones, banyak media yang akhirnya hanya fokus untuk mealporkan bencana dan jarang mengangkat berita positif.
“Sering mengonsumsi berita semacam itu, baik aktif atau pasif, bisa sangat toksik, dan apa yang kita baca itu berpengaruh pada mood,” katanya.
• Awalnya Iseng Tambah Lukisan Seadanya, Gentong Cuci Tangan Ini Banjir Pesanan Sampai BNPB
• Pertualangan Raden Fatah ke Bali dan Balik Lagi ke Majapahit hingga Peristiwa Batara Katong
• Warga yang Baru Datang dari Luar Denpasar Wajib Karantina Mandiri Minimal 14 Hari
Bahkan menurutnya, berita yang kita dengar di latar belakang, juga tetap berpengaruh pada emosi.
Menurut psikolog Annie Miller, paparan informasi negatif dalam jangka panjang akan memengaruhi otak, sebab ketika kita mengalami perasaan terancam otak akan mengaktifkan respon melawan atau meninggalkan, dan sistem dalam tubuh langsung bereaksi.
“Paparan berita negatif akan mengaktifkan sistem saraf, membuat tubuh melepaskan hormon stres.Lalu, kita akan mengalami respon stress lebih sering,” ujar Miller.
Gejala fisik yang paling sering adalah kelelahan, kecemasan, depresi, dan susah tidur.
• BBPOM Beri Penjelasan Ini Terakit Maraknya Produk Herbal & Suplemen Kesehatan untuk Cegah Covid-19
• Curi & Bobol ATM Ni Made Suastini Pria di Badung Ini Diringkus, Sempat Tarik Uang di Beberapa ATM
• Belajar dari Rumah 26 April 2020 Tayangkan Biografi Seniman Remy Sylado
Jaga keseimbangan Seperti banyak hal lain, kunci untuk menjaga kesehatan adalah keseimbangan.
Mengikuti informasi terkini memang penting, tetapi pilihlah sumber berita paling terpercaya dan kredibel serta menyuguhkannya secara seimbang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-stres_20160908_172753.jpg)