Corona di Bali

Pakar Virus: Kawasan Pantai Aman Dibuka, Asalkan Tetap Hindari Kerumunan

kawasan wisata pantai pada dasarnya aman untuk dikunjungi asalkan masyarakat mau mematuhi protokol kesehatan utamanya menghindari kerumunan.

Tribun Bali/Rizal Fanany
Suasana di Pantai Kuta, Badung, Bali belum lama ini. 

Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pemerintah Kabupaten Badung, Bali mengemukakan rencana melonggarkan aktivitas di sejumlah obyek wisata kawasan pantai dalam waktu dekat ini, yang mana teknis kesiapannya diserahkan kepada masing-masing pengelola.

Menanggapi hal itu, Ahli Virologi asal Universitas Udayana Bali Prof. Dr. drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika mengaku sepakat dan mendukungnya.

Menurutnya, kawasan wisata pantai pada dasarnya aman untuk dikunjungi asalkan masyarakat mau mematuhi protokol kesehatan utamanya menghindari kerumunan.

Dijelaskan dia, aktivitas di luar ruang (out door) dosis paparan virus atau viroloud-nya relatif rendah, berbeda jika dibandingkan dengan ruangan tertutup viroloud-nya tinggi.

Berapa Tarif Perpanjangan dan Pembuatan Smart SIM? Ini Rincian dan Keunggulannya

Dua Terdakwa Penyerangnya Akan Divonis Pengadilan, Novel Baswedan Tak Ingin Berharap Banyak

Para Tahanan Polresta Denpasar di Rapid Test, Kapolresta Ungkap Hasilnya

"Pantai atau tempat wisata outdoor aman untuk dikunjungi karena viroloudnya relatif rendah, pantai merupakan daerah terbuka, virus akan dicairkan oleh alam seperti di air laut virusnya pasti mati kena garam. Pantai memang tidak ada risikonya sejak awal, hanya saja kan kita pada masa awal pandemi pemeeintah harus straight supaya orang stay at home termasuk pantai ditutup agar tidak menimbulkan kerumunan," kata Prof. Mahardika kepada Tribun Bali, Rabu (1/7/2020).

"Orang kena sakit itu dosis besar, seperti tenaga medis kenapa berisiko karena terlalu sering terpapar virus secara terus-menerus sehingga dosisnya besar dan kelelahan," imbuh dia.

Akan tetapi, ditekankan Prof. Mahardika, tentang kerumunan, agar ada pengawasan dan kesadaran masyarakat supaya tidak berkerumun.

Pecalang, Desa Adat maupun pengelola masing-masing pantai harus mengawasi dan menegur apabila ditemukan adanya kerumunan serta perlu dipasang papan imbauan untuk menghindari kerumunan, atau dengan jarak minimal 2 meter.

"Kalau di luar negeri dipantau dengan drone begitu ada kerumunan dimohon menjauh. Seperti di Italia, Spanyol, ke pantai dibolehkan hanya saja wajib untuk menghindari kerumunan, kecuali dengan anggota keluarga seperti anak dan istri. Dan masyarakat harus sadar menjaga jarak. Kalaupun berdekatan ditanya apakah mereka keluarga, jangan sampai malah reunian," jabarnya.

Halaman
123
Penulis: Adrian Amurwonegoro
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved