Berita Bangli
Guru SMAN 1 Bangli yang Meninggal Kecelakaan Dikenal Mudah Bergaul dan Perhatian pada Murid
Kepergian I Nengah Sugita akibat kecelakaan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, ataupun rekan-rekan guru di SMAN 1 Bangli, Bali.
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Kepergian I Nengah Sugita akibat kecelakaan pada Sabtu (7/1/2023) malam, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, ataupun rekan-rekan guru di SMAN 1 Bangli.
Pasalnya pria 58 tahun itu dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul dan sangat perhatian.
Diketahui Nengah Sugita meninggal dunia akibat mengalami kecelakaan sepulang dari memancing di wilayah Kecamatan Susut.
Baca juga: Pemkab Bangli Alokasikan Rp 12,5 Miliar Untuk Lanjutan Proyek Pedestrian Kintamani
Menurut sang istri, Ni Ketut Sukardani, suaminya itu memang gemar memancing bersama kawan-kawannya.
Lokasinya pun berpindah-pindah.
"Walaupun gemar memancing, bapak (suami) tidak pernah sampai larut malam. Paling jam 22.00 wita sudah pulang," ungkapnya saat ditemui di rumah duka di Banjar/Kelurahan Kawan, Bangli Senin (9/1/2023).
Ketut Sukardani yang saat itu didampingi anak sulungnya bernama Gede Wahyu Herma Jayadi lanjut menceritakan, pada malam kejadian suami bersama teman-temannya memancing di wilayah Kecamatan Susut.
Baca juga: Tagihan Listrik Lampu Penerangan Jalan di Bangli, Bali, Tahun 2022 Hemat Rp 200 Juta
Saat itu Nengah Sugita berangkat mengendarai sepeda motor tanpa mengenakan helm.
"Kemungkinan saat itu rencananya mancing di wilayah Banjar Kawan, sehingga tidak menggunakan helm. Karena biasanya kalau memancing di luar Banjar Kawan pasti bapak menggunakan helm dan juga jaket," ucapnya.
Setelah puas memancing, suami bersama kawan-kawannya pulang mengendarai sepeda motor masing-masing secara beriringan.
Saat dalam perjalanan pulang, lanjut Ketut Sukardani, posisi almarhum yang awalnya ada di tengah-tengah.
Kemudian disalip oleh rekannya yang lain, sehingga posisi paling terakhir.
Baca juga: PHR Terutang di Bangli Masih Sisa Rp 1,2 Miliar, Berasal Dari Restoran yang Tak Lagi Beroperasi
"Saat melewati lokasi kejadian, temannya mendengar ada suara motor jatuh. Tapi saat itu mereka masih jalan. Sampai akhirnya sadar kalau bapak tidak ada di belakang," katanya.
Setelah ditelusuri ternyata Nengah Sugita terjatuh dari motor.
Pihak keluarga baru mengetahui kejadian tersebut setelah mendapat kabar dari Gede Wahyu Herma Jayadi yang saat itu baru saja masuk kerja shift malam di RSJ Provinsi Bali.
Gede Wahyu kemudian menambahkan, dia baru mendapatkan kabar dari rekan kerjanya yang kebetulan pulang melintasi jalur Kusumayudha - Kayuambua.
Mendapat kabar itu, ia segera memberitahu keluarga, dan pihak keluarga langsung menghubungi pihak RSU Bangli untuk dikirimkan ambulans.
Setelah almarhum dievakuasi dari lokasi langsung dilarikan ke RSU Bangli. Saat itu kondisinya sudah banyak mengeluarkan darah termasuk dari hidung.
Hanya saat diajak komunikasi masih bisa merespons.
"Setelah mendapat penanganan beberapa jam, dilakukan proses rujuk ke RS Klungkung. Hanya saja saat di RS Klungkung dinyatakan meninggal dunia. Meninggalnya sekitar pukul 03.30 wita," imbuhnya.
Semasa hidup almarhum dikenal sebagai pribadi yang mudah bergaul dan mengakrabkan diri dengan lingkungan baru.
Salah satunya karena almarhum yang gemar berolahraga.
Tidak hanya memancing namun juga bersepeda dan jenis olahraga lainnya.
Di samping itu almarhum yang juga merupakan Jero di Merajan itu, juga dikenal sebagai pribadi yang perhatian pada murid.
Pihaknya keluarga mengaku tidak ada firasat apa-apa dan keluarga ikhlas terhadap kepergian almarhum.
Ditambahkan pula, jenasah almarhum sudah di upacara nyiramin hingga mekingsan ring Wisnu pada hari Minggu (8/1/2023) pukul 24.00 wita.
Sementara pelaksanaan ngaben, rencananya pada 10 Februari mendatang.
Sejak menjadi guru, Nengah Sugita bertugas di SMAN 1 Bangli. Salah satu anak didiknya adalah Sang Nyoman Sedana Arta yang merupakan Bupati Bangli.
Bupati Sedana Arta saat dikonfirmasi mengatakan jika almarhum akrab dengan para siswa.
Dirinya pun merasa kehilangan atas meninggalnya Nengah Sugita.
"Masih ingat masa-masa beliau mengajar dulu yang bawaannya kalem sehingga akrab dengan para siswa. Semoga beliau mendapat tempat di sisi Tuhan Yang Maha Esa serta keluarga diberikan kekuatan untuk tegar," ungkapnya singkat.
Di sisi lain, salah satu rekan sesama guru di SMAN 1 Bangli, I Nengah Subrana masih teringat pesan almarhum Nengah Sugita, yang mana menjadi seorang guru agar memiliki karakter dan terbangun sebuah image.
"Cening, jani wak be dadi guru, melahang gen pang sing campahine jak murid, bangun karakter dan image mu di sekolah," kenang Nengah Subrana.
Disebutkan jika almarhum terlihat seperti orang judes, tetapi itu hanya balutan luar. Almarhum sangat perhatian, baik dan peduli dengan juniornya.
"Saya sendiri sempat menjadi anak didiknya, dan kini menjadi junior sebagai seorang guru. Saat bergabung dalam kepanitiaan, almarhum juga sering menawari untuk dibelikan makan. Beliau ini orangnya perhatian," kenangnya. (*)
Berita lainnya di Berita Bangli
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.