Berita Bali
BONGKAR Kasus Oplosan LPG! Wayan Setiawan Sebut: “Kalau Polisi Tak Tahu, Itu Lucu”
Dia mengaku, bahwa kelangkaan gas elpiji yang terjadi di Bali, khususnya Badung, disebabkan karena adanya pengoplosan.
TRIBUN-BALI.COM - Masyarakat Bali, khususnya Badung digemparkan, dengan pengakuan warga asal Bongkasa yang diketahui bernama I Wayan Setiawan.
Dia mengaku, bahwa kelangkaan gas elpiji yang terjadi di Bali, khususnya Badung, disebabkan karena adanya pengoplosan.
Bahkan I Wayan Setiawan yang sempat menjadi calon anggota legislatif (Caleg) DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Provinsi Bali dari Partai NasDem itu mengaku pengoplosan elpiji terbesar ada di dua tempat. Dia menyebutkan, satu berada di wilayah Kecamatan Mengwi Badung.
"Semeton, ini saya ngomong ya. Nanti tolong, bisa di-share video ini. Gas langka itu karena dioplos ya. Ada dua tempat pengoplosan terbesar itu ada di Kecamatan Mengwi," ujar Setiawan pada videonya yang viral di beberapa akun media sosial, Selasa (4/6).
Dalam video itu, dirinya juga mengajak petugas kepolisian khususnya polda Bali untuk mengecek. Bahkan dirinya meyakini, aparat kepolisian sudah mengetahui, namun tidak digubris. "Dari Polda sampai Polres, sampai Polsek dan Bhabinkamtibmas tidak tahu, itu lucu," bebernya.
Bahkan jika aparat kepolisian turun, dirinya mengaku siap akan mengantarkan ke lokasi. "Saya perlu tunjukkan? Nanti saya antar. Suruh datang tuh polisinya ke rumah saya. Saya yang antar," tegasnya sembari mengatakan saya Wayan Setiawan bertanggung jawab dengan omongan saya.
Baca juga: APES! Pelabuhan Tersibuk Tak Punya Ruang Tunggu Memadai di Banjar Nyuh di Desa Ped
Baca juga: KASUS Penyerangan Salah Satu Market di Denpasar, Polisi Diduga Telah Amankan Pelaku, Ini Beritanya!

Menyikapi hal itu, Polres Badung mengucapkan terima kasih atas informasi yang diberikan. Polres Badung akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. "Terima kasih informasinya," ujar Kapolres Badung AKBP Teguh Priyo Wasono SIK saat dihubungi, Selasa (4/6).
Pihaknya pun mengaku video yang beredar akan menjadi informasi penyelidikannya lebih lanjut. "Kami juga terima kasih kepada pembuat video. Ini sebagai informasi untuk segera kami lakukan penyelidikan lebih lanjut dugaan pengoplosan gas elpiji," katanya.
Sebelumnya, beredar kabar Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menemukan adanya tindak pengoplosan elpiji di hotel dan kafe, melalui hasil sidak elpiji 3 kg di Bali, Jakarta, Bogor, dan Depok.
Tim sidak menemukan harga elpiji 12 kg dan 50 kg yang dijual jauh di bawah harga jual Pertamina, yang kemudian diindikasikan adanya dugaan tindak pengoplosan elpiji non subsidi dengan elpiji bersubsidi.
Saat dikonfirmasi Tribun Bali mengenai apakah ada temuan tindak pengoplosan itu di Bali, Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Jansen Avitus Panjaitan hanya menyarankan masyarakat yang menemukan kejahatan tersebut agar segera melapor ke polisi dan akan diatensi penuh.
"Apabila masyarakat menjadi korban atau menemukan kejahatan dapat menghubungi 110 dengan biaya gratis pulsa dan dengan cepat akan diatensi penuh oleh anggota," kata Kombes Pol Jansen, Jumat (31/5) lalu.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Badung menduga di Kabupaten Badung memang ada oknum yang melakukan penimbunan atau pengoplosan elpiji 3 kg. Hal itu karena beberapa kali terjadi kelangkaan elpiji 3 kg di masyarakat.
Selain itu, Pertamina saat diajak koordinasi juga selalu mengaku sudah mendistribusikan elpiji 3 kg sesuai kebutuhan. Hanya saja nyatanya di masyarakat elpiji 3 kg malah langka.
"Sebenarnya kita sudah curiga akan adanya penimbunan atau pengoplosan. Namun kita di Pemkab Badung tupoksinya mengkoordinasikan masalah itu (kelangkaan gas, Red)," ujar Kepala Bagian (Kabag) Sumber Daya Alam (SDA) Setda Badung, Made Adi Adnyana, Selasa (4/6).
Pihaknya mengaku saat terjadi kelangkaan elpiji beberapa hari lalu, dirinya langsung berkoordinasi dengan Pertamina. Bahkan pihak Pertamina menyebutkan sudah mendistribusikan gas sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
"Pertamina katanya sudah mendistribusikan sesuai kebutuhan. Jadi Pertamina memberikan ke agen dan agen ke pangkalan-pangkalan. Namun kenyataannya setelah kita cek pangkalan juga ada yang kosong," jelasnya.

"Pendistribusian sampai ke pangkalan, kata Pertamina, agar Harga Eceran Tertinggi (HET) tidak jauh dari Rp 18.000. Sehingga Pertamina memiliki regulasi baru mendistribusikan hanya sampai pangkalan, baik yang milik Pertamina atau pihak ketiga yang sudah bekerjasama dengan pertamina," sambungnya.
Melihat kondisi yang jauh berbeda dari realita di lapangan, pihaknya menduga ada penimbunan dan pengoplosan elpiji hingga mengakibatkan gas langka.
Pihaknya akan melakukan rapat koordinasi kembali bersama tim migas guna menindaklanjuti masalah itu. Dalam tim Migas disebutkan ada Pertamina, Hiswana Migas, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Satpol PP, Polres Badung, SDA Badung, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) dan Dinas Koperasi dan Perdagangan Badung.
"Nanti kami akan rapatkan dengan tim migas. Nah mengenai adanya pengoplosan itu sudah ranah hukum. Jadi kami harapkan instansi terkait yang menindaklanjuti. Kami sifatnya hanya mengkoordinasikan," katanya. (gus)
Lelut Keliling 2 Jam Cari Gas Melon
ELPIJI 3 kg atau gas melon kembali langka di Kabupaten Gianyar. Bahkan tak sedikit warga yang sampai menghabiskan waktu berjam-jam mencari gas melon, dan tetap tidak dapat.
Informasi dihimpun Tribun Bali, Selasa (4/6), kelangkaan ini tidak terjadi bersamaan. Seperti di beberapa desa/kelurahan di Kecamatan Gianyar dan Ubud, kelangkaan terjadi sejak sebulan lalu. Sementara di beberapa desa di Kecamatan Sukawati, baru terjadi sekitar dua hari lalu.
Juni 2024, Ketut Lelut, warga Sukawati mengakui hal tersebut. Kata dia, di Desa Sukawati, gas baru langka sekitar dua hari lalu. Pihaknya sendiri telah menghabiskan waktu dua jam untuk berkeliling mencari gas melon, semua warung telah didatangi, begitu juga SPBU.
Ia juga sampai menelepon teman-temannya di luar desa dan luar kecamatan, untuk mendapatkan informasi di mana ada gas melon. Namun tetap saja ia tidak menemukan gas melon. "Saya sampai 2 jam keliling, tidak nemu. Sampai telepon teman di luar Sukawati, katanya ada, pas ke sana tidak ada,” ujarnya.
Selama belum mendapatkan gas melon, ia pun memanfaatkan kompor listrik kecil. "Kompor listrik untuk masak lauk masih bisa. Tapi untuk masak air tidak bisa, karena kompornya kecil," ujar Lelut.
Berdasarkan penelusuran di lapangan, rupanya tidak semua kawasan langka gas melon. Ni Ketut Suniari, pedagang makanan di Kota Gianyar, mengatakan, di desanya, Desa Tulikup, masih gampang menemukan gas melon.
Namun harganya naik dari Rp 22 ribu, kini menjadi Rp 23 ribu. "Di tempat saya masih gampang, ini baru kemarin beli satu. Tapi harganya Rp 23 ribu, naik lagi seribu," ujarnya.
Kepala Disperindag Gianyar, Luh Gede Eka Suary belum bisa diminta konfirmasi terkait kondisi ini, sebab yang bersangkutan sedang sakit.
Sementara itu, stok elpiji 3 kg tergolong aman di Jembrana. Pihak terkait mengakui karena telah menerapkan sistem pembagian atau distribusinya sesuai KTP. Artinya, setiap orang yang membeli gas menggunakan KTP sesuai kategorinya mulai dari rumah tangga hingga UMKM.
Salah satu warga, Nur (50) mengakui selama ini distribusi gas 3 kg di Jembrana masih tergolong aman. Dirinya yang bergerak di bidang UMKM ini harus menyetorkan KTP untuk mendapatkan jatah gas.
"Saya maksimal dikasih 6 tabung karena UMKM. Karena saya selalu pakai KTP, jadi sesuai kuota. Selama ini masih lancar (distribusi) gas di sini," sebutnya.
Iskandar Alfan, salah satu perwakilan pangkalan gas di Jembrana, mengatakan, selama ini pihaknya melakukan distribusi gas sesuai dengan sistem yang ada. Peruntukannya rumah tangga mendapat satu hingga dua tabung, kemudian UMKM memperoleh 4 tabung. "Pembelian elpiji 3 kg kita di sini berbasis KTP. Jadi sesuai ketentuan yang ada," jelasnya.
Disinggung mengenai pasokan dan distribusi elpiji, khususnya 3 kg di Jembrana, dia menyebutkan secara umum masih tergolong aman. Sebab, sistem berbasis KTP tersebut sudah diterapkan sejak tahun lalu.
"Di Jembrana masih aman, karena kita menerapkan sesuai ketentuan dari Pertamina. Jadi selama ini belum terjadi kelangkaan di Jembrana. Normal-normal saja," sebutnya.
Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Jembrana, I Komang Agus Adinata mengatakan, hasil monitoring dari tim pengawas di lapangan, stok 3 kg masih normal di Gumi Makepung. Pasokan dan kebutuhan atau distribusi salah satu hal pokok saat ini masih terbilang aman. "Di Jembrana masih aman, artinya normal. Tidak ada kelangkaan seperti di wilayah lain," kata Agus Adinata.
Dia melanjutkan, salah satu faktor stabilnya pasokan elpiji di Jembrana adalah soal jumlah penduduk atau konsumen yang tidak banyak bertambah dibandingkan daerah urban, seperti Kota Denpasar dan sekitarnya. Kemudian rata-rata penggunaan elpiji 3 kg adalah 4-5 hari untuk skala rumah tangga.
"Konsumen kita juga tidak bertambah, sehingga dengan pasokan seperti sebelumnya masih stabil," tegasnya. (weg/mpa)
UPAYA PHDI Denpasar Ringankan Beban Umat, Gelar Upacara Menek Kelih Hingga Metatah Massal |
![]() |
---|
Gelar Aksi Damai ke Kantor Gubernur, Partai Buruh Exco Bali Tuntut Stop PHK dan Hapus Outsourcing |
![]() |
---|
Kejati Bali Dorong Penanganan Tindak Pidana Korupsi Lewat Mekanisme DPA, Lazim di Luar Negeri |
![]() |
---|
Pemprov Bali Nantikan Pusat Untuk Penentuan Lokasi Tersus LNG |
![]() |
---|
Cuaca Buruk, Pelabuhan Gilimanuk Bali Ditutup Hampir Dua Jam, Antrean Kendaraan Mengular |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.