Berita Bali

HIDUPI 5 Anak Dari Jualan Es Teh di Denpasar Bali, Musim Hujan Murad Hanya Kantongi Rp 100 Ribu

Ketika ditemui, pria asal Lombok berusia 59 tahun ini mengatakan telah berjualan es teh di sekitar jalanan Kamboja Denpasar sejak tahun 1983.

Tribun Bali/ Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami
PEDAGANG ES- Pak Murad, pria berusia senja yang berprofesi sebagai pedagang es teh melayani pembeli di Jalan Kamboja Denpasar, Kamis (5/12). Meskipun masuk musim penghujan, hal itu tak menyurutkan semangat Murad untuk mencari rejeki. 

TRIBUN-BALI.COM  – Meskipun masuk musim penghujan, tak menyurutkan semangat Pak Murad untuk berjualan es teh. Dengan rombong kayu berwarna hijau merah, ia menjajakan es teh buatannya di Jalan Kamboja, Denpasar persis di depan Gedung SMAN 1 Denpasar

Ketika ditemui, pria asal Lombok berusia 59 tahun ini mengatakan telah berjualan es teh di sekitar jalanan Kamboja Denpasar sejak tahun 1983.

Tak hanya berjualan di depan SMAN 1 Denpasar, sesekali ia juga menjajakan es tehnya di GOR Ngurah Rai yang cukup dekat juga dengan Jalan Kamboja. Bisa dikatakan es teh buatan Pak Murad ini berbeda dengan es teh pada umumnya sebab terdapat rasa mocca. 

Murad mulai berjualan pada pukul 10.00 Wita sampai pukul 18.00 Wita. Ia pun tak pernah libur berjualan sebab ada anak dan istri yang harus ia hidupi. Diakuinya memasuki musim hujan ini omset penjualannya dalam sehari menurun. 

Baca juga: KASUS Gendongan Serang Puluhan Siswa di Gianyar, Kasus Melonjak Sejak November 2024

Baca juga: SAPU Bersih 4 Kecamatan Paket Jaya-Wibawa, KPU Denpasar Gelar Rapat Pleno Hasil Pilkada 2024

PEDAGANG ES- Pak Murad, pria berusia senja yang berprofesi sebagai pedagang es teh melayani pembeli di Jalan Kamboja Denpasar, Kamis (5/12). Meskipun masuk musim penghujan, hal itu tak menyurutkan semangat Murad untuk mencari rejeki.
PEDAGANG ES- Pak Murad, pria berusia senja yang berprofesi sebagai pedagang es teh melayani pembeli di Jalan Kamboja Denpasar, Kamis (5/12). Meskipun masuk musim penghujan, hal itu tak menyurutkan semangat Murad untuk mencari rejeki. (Tribun Bali/ Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami)

“Sehari kalau hujan begini saya bawa es teh hanya 12 liter dan terjual hanya Rp 100 ribu. Kalau musim panas bisa dapat jualan Rp 200 sampai 250 ribu,” ucap Murad kepada Tribun Bali, Kamis (5/12). 

Tak mahal-mahal, pembeli hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 3000 saja untuk segelas es teh mocca. Rasanya segar, manis, dan sedikit pekat dari cita rasa mocca. Sari tehnya sendiri, dia peroleh dari pedagang langganannya.

“Biasanya paling ramai saat ada Porjar atau kegiatan santai seperti lomba-lomba di sekolah,” ungkapnya. 
Selain karena musim hujan, es teh buatan Murad juga bersaing dengan rombong-rombong es teh baru yang lebih kekinian kemasannya dan berjualan di sekitar Jalan Kamboja Denpasar. Dengan berjualan es teh ini ia mampu menghidupi istri dan 5 orang anaknya.

“Saya punya lima anak, tapi empat sudah bekerja dan satunya masih SMP. Alhamdulillah bisa menghidupi keluarga dari berjualan ini. Sedikit-sedikit,” ucap, Pria yang tinggal di sekitar daerah Pekambingan, Denpasar Barat.

Disinggung terkait alasannya mengapa hanya menjual es teh, Murad mengungkapkan, rejekinya ada pada jualan ini. Sebelumnya dia sudah pernah mencoba hal lain, namun penghasilan yang diperoleh tak seberapa. “Saya pernah coba jadi buruh bangunan, dan yang lainnya. Tapi mungkin memang di sini rejekinya,” kata dia.

Diakuinya, di usianya yang sudah senja, berjualan dengan berjalan kaki dan mendorong rombong es tehnya cukup melelahkan. Namun, jika mengingat jerih payahnya untuk menghidupi keluarga, lelah itu akan lekas hilang. “Hujan pun saya tetap jualan. Karena kadang kan hujan tidak seharian, saat reda ada saja beberapa yang beli,” jelasnya.

Selama bertahun-tahun berjualan di tempat tersebut, sudah tak terhitung berapa kali dirinya dan pedagang lainnya dikejar Satpol PP. Bahkan, tak tanggung-tanggung, rombongnya pun pernah disita. 

Ia juga turut menanggapi terkait pendakwah yang juga Utusan Khusus Presiden, Miftah Maulana Habiburahman yang tengah ramai diperbincangkan publik sebab mengatakan kata-kata kurang pantas pada penjual es teh saat sedang mengisi acara salawatan di Lapangan drh Soepardi, Sawitan, Mungkid, Kabupaten Magelang, beberapa waktu lalu. 

Murad mengatakan sebagai pejabat sekaligus pendakwah hendaknya tidak menghina pekerjaan rakyat kecil, sebab dengan berjualan es teh seorang ayah mampu menghidupi istri dan anak-anaknya.
“Janganlah sampai menghina orang jualan es teh karena itukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga untuk anak istri,” tutupnya. (sar)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved