Rabies di Bali
19 Kerabat yang Kontak Erat Sugiartama Diberi VAR, Pasca Meninggalnya Sugiartama Akibat Rabies
Budiastawan menyebut stok VAR di Kabupaten Buleleng sekitar 10.400 vial. Jumlah tersebut diperkirakan cukup untuk enam hingga delapan bulan ke depan.
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - Pasca meninggal akibat suspek rabies yang dialami Kadek Sugiartama, pihak Dinas Kesehatan melalui puskesmas telah bergerak melakukan pendataan kontak erat. Seluruh kontak erat pun segera mendapat Vaksin Anti Rabies (VAR) untuk meminimalisir dampak lanjutan.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Buleleng Nyoman Budiastawan mengatakan, pasca kasus meninggalnya Sugiartama, tim medis puskesmas Banjar 2 telah bergerak melakukan tracing kontak erat.
"Memang peristiwa gigitannya di Pancasari yang merupakan wilayah Puskesmas Sukasada 2. Namun pasien ini asalnya di Banjar Dinas Tamblingan, Desa Munduk, Kecamatan Banjar. Sehingga merupakan wilayah kerja Puskesmas Banjar 2," jelasnya, Selasa (25/2).
Baca juga: NEKAT Oplos Pertalite Jadi Pertamax! 7 Tersangka Korupsi Pertamina Rugikan Negara Rp193 Triliun
Baca juga: BANJIR Masuk ke Gedung Ksirarnawa Art Center, Stan Pameran Bulan Bahasa Bali Terendam

Dari hasil penelusuran tercatat ada 19 orang kontak erat. Seluruhnya merupakan keluarga maupun kerabat Sugiartama. "Semuanya sudah diberikan VAR di Puskesmas Banjar 2," ungkapnya.
Lebih lanjut, Budiastawan menyebut stok VAR di Kabupaten Buleleng sekitar 10.400 vial. Jumlah tersebut diperkirakan cukup untuk enam hingga delapan bulan ke depan. "Tentunya tergantung dari kasusnya. Mudah-mudahan kasus rabies di Buleleng tidak mengalami peningkatan," ujar dia.
Lantas disinggung mengenai kasus gigitan anjing di Kabupaten Buleleng, Budiastawan menyebut dalam dua bulan di tahun 2025 ini, tercatat ada 605 kasus gigitan anjing. Walau demikian tidak seluruh kasus gigitan ini positif rabies.
"Tergantung hasil observasinya. Kalau positif rabies, baru diberikan VAR. Jika dibandingkan dengan tahun 2024, jumlah kasus di tahun 2025 ini telah menyentuh 10 persennya. Sebab di tahun 2024, total kasus gigitan mencapai 5.617 kasus," tandasnya. (mer)
Tak Kembali ke Puskesmas
Meninggalnya Kadek Sugiartama, warga Banjar Dinas Tamblingan, Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Buleleng diketahui akibat tidak mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR). Ini karena pria 35 tahun itu tidak kembali melanjutkan pengobatan di puskesmas pada masa observasi, pasca mengalami gigitan anjing liar.
Hal tersebut diungkapkan pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Buleleng Nyoman Budiastawan. Dikatakan dia, kasus gigitan yang dialami Sugiartama terjadi pada 7 November 2024. Berawal saat Sugiartama berjualan di Pasar Pancasari, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada.
Di puskesmas, Sugiartama mendapatkan perawatan sesuai dengan SOP. Yakni pembersihan luka menggunakan air mengalir. Selanjutnya Sugiartama diobservasi selama 14 hari. Hanya saja 14 hari kemudian Sugiartama tidak kembali ke Puskesmas Sukasada 2.
"Padahal pihak puskesmas sudah meminta agar pasien datang 14 hari kemudian. Petugas juga sudah berusaha menghubungi yang bersangkutan, namun ponselnya juga tidak aktif," katanya, Selasa (25/2). (mer)
TARGET Nol Angka Kasus Rabies, Gianyar Digitalisasi Anjing Peliharaan di Seluruh Desa |
![]() |
---|
Tim Khusus Sasar HPR Liar, Upaya Menekan Angka Kasus Rabies di Jembrana |
![]() |
---|
Disperpa Badung Temukan 9 Kasus Rabies, 14 Anjing Positif Rabies di Denpasar, 54.351 Ekor Divaksin |
![]() |
---|
BADUNG Temukan 9 Kasus Rabies, Catat 17 Desa Belum Disasar Vaksin |
![]() |
---|
916 Kasus Gigitan HPR di Karangasem, Vaksinasi Anjing Masih 43,15 Persen |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.