Sampah di Bali

342 Bank Sampah & 1.000 Teba Modern di Denpasar, Strategi Jangka Pendek Walikota 

Denpasar kini memiliki 1.000 teba modern yang tersebar di wilayah Kota Denpasar. Hal ini dilakukan sebagai langkah pengolahan sampah berbasis sumber

Istimewa
SOSOK - Denpasar kini memiliki 1.000 teba modern yang tersebar di wilayah Kota Denpasar. Hal ini dilakukan sebagai langkah pengolahan sampah berbasis sumber sebagai strategi jangka pendek. Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara menegaskan, beberaha hal dilakukan untuk penanganan sampah jangka pendek. Dan salah satunya adalah dengan teba modern ini.  

TRIBUN-BALI.COM - Denpasar kini memiliki 1.000 teba modern yang tersebar di wilayah Kota Denpasar. Hal ini dilakukan sebagai langkah pengolahan sampah berbasis sumber sebagai strategi jangka pendek.

Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara menegaskan, beberaha hal dilakukan untuk penanganan sampah jangka pendek. Dan salah satunya adalah dengan teba modern ini. 

Selain itu, pihaknya sedang mengoptimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R), bank sampah hingga sentra komposting untuk mendukung optimalisasi pengolahan sampah berbasis sumber. 

“Di mana, hingga kini terdapat 24 TPS 3R, sebanyak 1.000 lebih teba modern dan sebanyak 342 bank sampah serta 1 pusat daur ulang telah beroperasi dan memberikan dampak pengurangan sampah menuju TPA Suwung,” papar Jaya Negara.

Baca juga: KISAH Oly 14 Tahun Mengabdi Akhirnya Jadi, Koster Minta BPD Bali Utamakan Pinjaman PPPK dan ASN 

Baca juga: Pekak Mender Belum Ditemukan, Warga Jembrana Dilaporkan Tak Kembali ke Rumah Sejak Dua Hari Lalu

Ia menambahkan peran masyarakat dalam pemilahan sampah sangatlah penting. “Dalam jangka pendek akan kami optimalisasi pengolahan sampah berbasis sumber, dan tentu sangat mendukung program waste to energy dari Pemerintah Pusat untuk jangka Panjang,” ujarnya. 

Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq saat kunjungan ke TPA Suwung mengatakan pemerintah pusat menargetkan implementasi Waste to Energy (WtE) untuk daerah yang menghasilkan lebih dari 1.000 ton sampah per hari.

Bali termasuk dalam wilayah prioritas dan pembangunan pembangkit listrik berbasis sampah akan dimulai awal 2026. Pada 2025 ini, sebagai tahapan awal akan dilaksanakan kajian lingkungan, tata ruang, proses perizinan dan beberapa peraturan teknis lainya. 

“Waste to Energy kita dukung sepenuhnya, Bali menjadi salah satu titik yang kita target untuk disampaikan kepada bapak Presiden untuk mendapat persetujuan pembangunan Waste to Energy,” paparnya. 

Jaya Negara mengatakan, Pemkot Denpasar mendukung realisasi program WtE sebagai program penanganan sampah. Di mana, hal ini merupakan komitmen bersama dengan sinergi pusat dan daerah untuk mendukung penanganan sampah secara berkelanjutan. 

Sementara itu, Duta Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) PADAS, Ny. Putri Suastini Koster, menyerukan penghentian pola lama pengelolaan sampah di Bali. Dalam webinar dengan tema Sosialisasi Pembatasan Plastik Sekali Pakai dan PSBS, Rabu (28/5), ia menegaskan bahwa pola angkut sampah dari rumah ke TPS 3R atau TPA tidak lagi relevan.

“Pola angkut justru membuat masyarakat pasif. Kita harus ubah cara pikir. Sampah harus dikelola dari sumbernya, bukan sekadar dipindahkan,” tegas Putri Koster dari Jaya Sabha, Denpasar.

Acara daring ini melibatkan pengurus desa, kelurahan, dan kecamatan se-Bali. Ny. Putri menekankan pentingnya kolaborasi antar semua pihak, pemerintah, swasta, hingga masyarakat untuk mewujudkan Bali yang bersih dan mandiri dalam pengelolaan sampah. Merujuk Surat Edaran (SE) Gubernur Bali No. 9 Tahun 2025, Putri Koster menegaskan semua pihak harus turun ke lapangan, bukan hanya duduk di balik meja.

“Gerakan Bali bersih tidak bisa dikerjakan secara individu. Kita perlu komitmen, sinergi, dan pengawasan nyata di lapangan,” ujarnya.

Data dari Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Bali mencatat produksi sampah harian di Bali mencapai 3.436 ton.

Dari jumlah tersebut terdiri dari sampah organik 60 persen, sampah plastic 17 persen, dan sampah residu 23 persen. Mayoritas sampah berasal dari rumah tangga (60 persen), pasar (7%), dan sektor bisnis (11%).

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved