Kapal Tenggelam di Selat Bali

ISAK Tangis Iringi Pengabenan Korban KMP Tunu, Kadek Oka Dikenal Sosok Pekerja Keras 

Suasana duka kian terasa ketika prosesi memandikan jenazah I Kadek Oka. Warga berkerumun untuk ikut dapat melihat jenazah Kadek Oka.

TRIBUN BALI/EKA MITA SUPUTRA
PENGABENAN – Sejumlah warga tampak mengiringi pengabenan I Kadek Oka di Setra Desa Adat Banjarangkan, Selasa (8/7). 

TRIBUN-BALI.COM - Isak tangis mengiringi pengabenan I Kadek Oka (52), korban tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali. Keluarga, kerabat, maupun rekan-rekannya merasa sangat kehilangan sosok pekerja keras dan rajin mebraya tersebut.

Suasana duka kian terasa ketika prosesi memandikan jenazah I Kadek Oka. Warga berkerumun untuk ikut dapat melihat jenazah Kadek Oka. Ketika itulah isak tangis dari keluarga dan rekan-rekannya mulai terdengar lirih.

Beberapa keluarga bahkan sampai lemas, karena tidak berkuasa menahan duka. Pun putra sulung Kadek Oka, Putu Adi Prastikaka meski berusaha tegar, tapi ia tidak berdaya menahan tangisnya.

Baca juga: 1.510 Siswa Gagal Masuk SMPN via Jalur Prestasi, Gunakan Sertifikat Tak Sesuai Juknis

Baca juga: BUNTUT Jebol Jalan Bajera, Terminal Kargo Gilimanuk Mulai Dipadati Kendaraan Besar, DPRD Minta Ini

Rasa kehilangan begitu jelas teraut dari wajahnya. Sementara sang istri, Ni Nyoman Geria Rangkane tampil lebih tegar. Walau dari ekpresinya, menujukan rasa kehilangan yang mendalam.

Jenazah Kadek Oka diantar ke setra setempat sekitar pukul 14.00 Wita. Ratusan krama banjar ikut mengiringi perjalanan janazah ke setra di Setra Desa Adat Banjarangkan, Kabupaten Klungkung yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah duka. 

Hingga akhirnya sekitar pukul 15.00 Wita, jenazah Kadek Oka dibakar. Keluarga maupun kerabat sangat merasa kehilangan sosok Kadek Oka.

Seperti yang diungkapkan kerabatnya, I Nyoman Arjana. Baginya Ketut Oka merupakan sosok yang sangat rajin bermasyrakat.

Meskipun kesibukannya sebagai sopir truk lintas provinsi pengangkut semen, ia tetap meluangkan waktu jika ada kegiatan banjar ataupun keluarga.

“Setiap ada kegiatan banjar atau keluarga beliau selalu hadir, ikut berperan serta. Kami merasa sangat kehilangan,” ungkap Arjana yang juga Kelihan Banjar Nesa.

Hal serupa diungkapkan Perbekel Desa Banjarangkan, Anak Agung Gde Indrawan Diputra. Menurutnya Kadek Oka sosok pekerja keras. Menyopir truk besar Jawa-Bali, sudah menjadi rutinitas dari seorang Kadek Oka.

“Saya terakhir bertemu beliau belum lama ini, saat menghadiri acara ngaben warga. Beliau sangat baik dan pekerja keras,” kenangnya.

Kadek Oka yang menjadi korban KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam di Selat Bali meninggalkan seorang istri, 2 anak dan 4 orang cucu. Jenazahnya Kadek Oka ditemukan mengapung di Perairan Selat Bali pada Senin (7/7).

Kadek Oka merupakan seorang sopir truk di salah satu perusahaan distributor semen di Klungkung. 
Saat musibah kapal tenggelam, Kadek Oka menyeberang dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi menuju Gilimanuk membawa satu unit truk semen bernomor polisi DK 8565 MH. Ia berangkat bersama rekannya, Eko Satrio, yang juga membawa truk semen dengan plat DK 8153 AD. (eka mita suputra)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved