LSD di Bali
6 Desa dan Kelurahan Lockdown, 28 Ekor Sapi di Jembrana Bali Terjangkit Penyakit LSD, 4 Ekor Mati
seluruh ternak milik warga di wilayah tersebut untuk sementara tidak boleh keluar dan dilakukan pengawasan oleh petugas.
Dirinya juga sudah memerintahkan seluruh kepala puskeswan dan kepala satuan kerja untuk siaga dan melakukan sosialisasi kepada para peternak agar mewaspadai penyakit LSD ini.
“Jadi kami imbau pada sosialisasi dengan rutin melakukan pemeriksaan ternak, menjaga kebersihan kandang, melakukan spraying, serta membatasi orang yang masuk ke kendang,” tegasnya.
Selain itu, Disperpa Badung juga telah menyiapkan tim reaksi cepat pengendalian penyakit ternak yang dilengkapi dengan mobil khusus dan layanan ambulatory guna mempercepat penanganan di lapangan.
“Kami memiliki tim reaksi cepat yang siap turun ke lokasi jika ada laporan ternak bergejala sakit. Peternak diminta segera melapor apabila menemukan gejala LSD agar bisa segera ditangani,” jelas Wijana.
Penyakit LSD bisa berkembang di lingkungan kandang yang kotor dan lembap. Karena itu, pengelolaan kandang dan limbah ternak menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.
Pihaknya juga mengingatkan peternak agar mengkarantina ternak baru serta segera mengisolasi sapi yang menunjukkan gejala seperti demam dan benjolan pada kulit.
Selain itu ia meminta agar peternak tidak memperjualbelikan ternak yang sakit. Langkah ini penting untuk mencegah penularan ke ternak lain.
“Pendampingan kepada peternak melalui penyuluh dan petugas kesehatan hewan, sekaligus memastikan pelaksanaan vaksinasi LSD berjalan optimal di seluruh wilayah Badung tetap kami laksanakan dalam hal ini,” kata Wijana. (gus)
Kumpulan Artikel Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Sejumlah-sapi-yang-akan-dijual-di-Pasar-Hewan-Beringkit.jpg)