Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

LSD di Bali

TEMUKAN 1 Sapi Positif Terjangkit Penyakit LSD, Distan Buleleng Berupaya Lockdown Desa? Ini Katanya!

Upaya tersebut menindaklanjuti pasca temuan terbaru satu sapi positif terjangkit penyakit Lumpy Skin Disease (LSD).

Tribun Bali/ISTIMEWA
AMBIL SAMPEL - Petugas Distan Buleleng saat mengambil sampel sapi di salah satu desa wilayah Kecamatan Gerokgak pasca beredarnya sebaran penyakit LSD, Rabu (21/1). 

Sebelumnya Distan Buleleng memberlakukan langkah antisipatif menyusul temuan dua ekor sapi milik peternak di salah satu desa di Kecamatan Gerokgak, yang diduga terjangkit penyakit LSD.

Untuk mencegah penyebaran lebih luas, Distan langsung menerapkan karantina wilayah di tingkat desa dengan membatasi pergerakan dan distribusi sapi.

Melandrat menjelaskan temuan tersebut merupakan laporan pertama yang masuk ke pihaknya, setelah sebelumnya Bali berada dalam status waspada LSD berdasarkan informasi dari Balai Besar Veteriner (BBVet) Bali.

Laporan diterima pada Senin (19/1), setelah peternak melaporkan adanya sapi yang menunjukkan gejala penyakit kulit.

“Awalnya kami hanya menerima informasi kewaspadaan dari BBVet Bali dan belum ada temuan di lapangan. Namun pada Senin kemarin, peternak melapor ada dua ekor sapi yang menunjukkan gejala mengarah ke LSD,” ujar Melandrat, Rabu (21/1).

Hasil penelusuran menunjukkan dua sapi tersebut merupakan anakan sapi yang dibeli secara online melalui media sosial Facebook dan didatangkan dari luar daerah, diduga dari wilayah timur Bali.

Sapi-sapi tersebut telah dipelihara sekitar satu bulan sebelum akhirnya menunjukkan gejala berupa bercak-bercak pada kulit menyerupai cacar.

“Inilah yang menjadi perhatian kami, karena pembelian ternak secara online membuat asal-usul dan riwayat kesehatannya sulit dipantau,” jelasnya.

Meski kondisi kedua sapi yang diduga terjangkit LSD dilaporkan mulai membaik dan masih memiliki nafsu makan, Distan tetap mengambil langkah pencegahan dengan mengisolasi satu desa.

Pembatasan tidak hanya berlaku pada sapi yang sakit, tetapi juga seluruh sapi di wilayah tersebut. “Sapi dari desa itu sementara tidak boleh keluar sampai benar-benar dinyatakan steril,” tegas Melandrat.

Distan Buleleng juga telah melakukan pengambilan 25 sampel sapi untuk diuji di BBVet Denpasar. Sampel diambil tidak hanya dari sapi yang menunjukkan gejala klinis, tetapi juga dari sapi-sapi di sekitar lokasi temuan guna memastikan potensi sebaran penyakit.

Berdasarkan data Distan, populasi sapi di Kabupaten Buleleng mencapai 69.076 ekor yang tersebar di sembilan kecamatan.

Kecamatan Gerokgak menjadi wilayah dengan populasi sapi tertinggi, yakni 23.539 ekor, disusul Kecamatan Kubutambahan sebanyak 10.242 ekor dan Kecamatan Seririt 7.783 ekor. “Saat ini kami optimistis, penyakit ini masih bisa dikendalikan,” kata dia. (mer)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved