Berita Jembrana

38 Banjar di Jembrana Masuk Zona Kekeringan, Data Terus Bertambah, Debit Air Terus Menurun

Berdasarkan data BPBD Jembrana, Kecamatan Melaya ada tujuh banjar di Desa Tukadaya dan lima banjar di Desa Manistutu yang terancam kekeringan.

Kompas.com
KEKERINGAN - BPBD Jembrana mendistribusi air bersih di wilayah Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana, Rabu (23/8). 

TRIBUN-BALI.COM - Debit air di sejumlah desa di Jembrana sudah menurun. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana kembali mendata wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan dampak El Nino.

Dari empat kecamatan, ada 38 banjar dari delapan desa dan dua kelurahan yang masuk dalam data daerah kekeringan. Secara umum pendataan hampir sama dengan data sebelumnya. Namun karena dampak El Nino, maka petugas kembali melakukan pendataan ulang.

Berdasarkan data BPBD Jembrana, Kecamatan Melaya ada tujuh banjar di Desa Tukadaya dan lima banjar di Desa Manistutu yang terancam kekeringan. Rata-rata debit air di wilayah ini menurun dan warga tak memiliki bak penampungan air induk.

Sementara di Kecamatan Negara ada enam Banjar di Desa Berangbang dan dua lingkungan di Kelurahan Baler Bale Agung. Masalahnya sama, debit air di lokasi ini menurun dan tidak ada bak penampungan.

Di Kecamatan Jembrana tercatat ada satu kelurahan dan dua desa yang rawan kekeringan. Yakni tiga lingkungan di Kelurahan Pendem, tiga banjar di Desa Batuagung, dan dua Banjar di Desa Dangin Tukadaya.

Di Kecamatan Mendoyo, ada tiga desa yang berpotensi mengalami kekeringan. Rinciannya, dua banjar di Desa Mendoyo Dauh Tukad, dan masing-masing empat banjar di Desa Pohsanten dan Desa Pergung. Selain ini, juga ada beberapa wilayahb lainnya yang terancam kekeringan.

Baca juga: Imbal Jasa Paskibraka di Klungkung Belum Cair,Administrasi Belum Lengkap Jadi Alasan, Ini Beritanya

Baca juga: Wayan Koster Ditawari Jadi Menteri, Jika Ganjar Pranowo Menang Pilpres 2024! Ini Jawabannya

Personel BPBD Jembrana saat mendistribusikan air bersih di wilayah Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana, Rabu 23 Agustus 2023 kemarin.
Personel BPBD Jembrana saat mendistribusikan air bersih di wilayah Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana, Rabu 23 Agustus 2023 kemarin. (Ist/BPBD Jembrana)

"Sudah empat kecamatan yang dilakukan pendataan. Sisanya satu kecamatan lagi masih berproses. Mungkin besok (hari ini) sudah klop datanya," kata Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra, Kamis (24/8).

Atas kekeringan ini, Agus Artana sudah berencana mengirimkan air bersih untuk warga. Ia mengaku sudah mengirimkan air 20 ribu liter. Air tersebut dipasok ke warga Kelurahan Pendem yang sudah merasakan kekeringan karena turunnya debit air.

"Suplai air bersih jika dibutuhkan. Untuk sementara ini air bersih yang sudah didistribusikan 20 ribu liter lebih di kawasan Kelurahan Pendem. Di wilayah ini juga terdampak dan mengalami penurunan debit air," jelasnya.

Ia mengimbau kepada masyarakat yang betul-betul membutuhkan air berish agar segera melapor atau menginformasikan kondisi tersebut lewat aparat desa untuk dilanjutkan ke BPBD Jembrana. Semua kebutuhan diupayakan dipenuhi. "Jika dibutuhkan, kami siap suplai air bersih ke lokasi yang dibutuhkan," tandasnya.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak fenomena iklim El Nino yang akan memicu cuaca panas ekstrem di Indonesia terjadi sejak Agustus hingga Oktober 2023 dan akan berlanjut hingga awal 2024

El Nino adalah fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah. Pemanasan ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan mengurangi curah hujan di wilayah Indonesia. El Nino memicu terjadinya kondisi kekeringan untuk wilayah Indonesia secara umum. (mpa)


Rapat Bareng Pemprov dan BMKG

Sejak awal musim kemarau tahun ini, BPBD Jembrana telah menyalurkan sedikitnya 22.750 liter air bersih. Air tersebut disalurkan kepada warga yang sudah mengajukan surat permintaan pengiriman air. "Kami masih terus mendata desa dan kelurahan yang berpotensi kekurangan air bersih," kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Jembrana, I Made Sapta Budiarta.

Dari hasil rapat bersama Pemprov Bali dan BMKG, diperkirakan musim kemarau bakal berlangsung hingga November. Kemungkinan akhir November atau awal Desember, musim hujan bakal dimulai. "Sesuai keterangan BMKG waktu rapat seperti itu. Semoga tidak terjadi karena kemarau panjang bakal sangat terdampak untuk di wilayah yang berpotensi kekeringan," kata dia. (mpa)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved