Tragedi di Jembatan Bangkung

NEKAT Akhiri Hidup Terjun di Jembatan Bangkung, Pj Gubernur Bali Prihatin Minta Dinsos Fasilitasi

Pihaknya mengaku evakuasi juga cukup sulit dan memakan waktu. Pasalnya untuk turun ke bawah jembatan membutuhkan waktu.

 Ratu Ayu Astri Desiani/Tribun Bali
Foto mendiang semasa hidup Ketut Sutama (23) dan Putu Yasa Sari Dana (5). 

Aparat Polsek Petang belum mengetahui pasti penyebab pasti pemuda asal Singaraja bunuh diri bersama adiknya. Kasi Humas Polres Badung Ipda Putu Sukarma mengatakan kejadian bunuh diri itu terjadi sekitar pukul pukul 16.45 Wita.

Pihaknya mengaku ada dua korban yakni Ketut S (23) asal Banjar Dinas Rendetin, Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan. Dia bunuh diri bersama adik kandungnya Putu YSD (5).

“Sebelum kejadian ada saksi mata yang melihat pemuda itu bersama adiknya di Jembatan Tukad Bangkung,” ucapnya, Senin.

Menurut saksi I Made Wirawan (29) Ketut Sutama bersama adiknya sempat diam di sampingnya. Namun selang beberapa menit setelah melihat kembali sudah tidak ada lagi di samping.

“Jadi saat saksi ini melihat kembali dua pemuda itu, sudah hilang, dan diduga melakukan bunuh diri dengan cara melompat ke Sungai Ayung/Tukad Bangkung,” bebernya. (sar/rtu/gus)

 

Komunitas 10 Ribu Mimpi Kumpulkan Donasi

TEWASNYA kakak beradik asal Banjar Dinas Rendetin, Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng mengetuk hati sejumlah pihak. Selain karena tewas akibat ulah pati, kedua korban rupanya merupakan warga kurang mampu.

Prihatin atas kondisi tersebut, pegiat sosial Komunitas 10 Ribu Mimpi yang diinisiasi oleh Ary Ulangun membuka donasi untuk kedua korban. Donasi dibuka sejak Minggu (26/5).

Kepada Tribun Bali, Ary Ulangun menyebut, hingga Senin (27/5) siang, jumlah donasi yang terkumpul sudah Rp 90 juta.

Donasi itu diberikan untuk memenuhi kebutuhan Upacara Pitra Yadnya. "Jenazah keduanya kan sudah dikubur Senin dini hari karena ulah pati. Jadi donasi ini akan kami berikan untuk biaya upacara selanjutnya. Kalau masih ada sisa, akan kami berikan juga untuk kakak pertamanya yang mengalami disabilitas," jelas Ary.

Ditambahkan Ary, donasi ini rencananya dibuka selama tiga hari, atau akan ditutup Selasa (28/5). "Kami akan bertemu dulu dengan keluarga almarhum. Kalau dana yang Rp 90 juta ini sudah cukup, donasi akan kami tutup," tandasnya.

Kakak beradik yang melakukan bunuh diri di Jembatan Tukad Bangkung Plaga itu terdata sebagai warga kurang mampu di Desa Bontihing, Kubutambahan.

Rupanya terdapat salah satu relawan dari Komunitas Lentera Hati yakni Ni Luh Getas yang sempat memberikan bantuan sembako dan uang tunai serta mengunjungi rumah Ketut S, 3 Mei 2024 lalu.

Ni Luh Getas menyampaikan kondisi memprihatinkan yang dialami oleh keluarga ini sebelum tragedi terjadi.

Keseharian mereka sepeninggal kedua orangtua hanya hidup bertiga dengan kakak perempuan mereka yang kondisinya cacat fisik.

"Iya, waktu itu saya ke sana hanya memberikan sembako dan uang cash. Kalau jumlah uangnya saya lupa karena teman-teman yang ikut juga memberikan uang," kata Getas, Senin (27/5).

Menurut relawan asal Karangasem ini, rumah yang dihuni oleh anak-anak ini berada dalam kondisi yang sangat tidak layak.

“Waktu itu dapat bedah rumah kata Pak Kadus. Jadi saya tanya, 'Oh ini bedah rumah gitu,' dan banyak bekas-bekas TV yang rusak.

Bapaknya dulu tukang service TV. Dan setelah bapaknya meninggal, anak laki-lakinya yang melanjutkan. Saat saya ke sana, dia kebetulan tidak ada di rumah. Hanya ada kakaknya yang cacat dan adik yang paling kecil,” imbuhnya.

Getas menerangkan, kakak perempuan Luh Somotini yang cacat tersebut sebelumnya mengalami kecelakaan. Kondisi ini yang menyebabkan pertumbuhannya tidak berkembang.

"Dia pernah jatuh. Jadi kondisinya seperti itu. Tidak bisa berkembang," ungkapnya.

Saat ini, lantaran dua saudaranya ditemukan telah tiada, Luh Somotini harus hidup sebatang kara. Getas juga menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan oleh berbagai komunitas sosial adalah sumber utama kehidupan mereka.

"Kalau makan dari mana, ada aja yang seperti saya dan komunitas-komunitas yang mau menengok ke sana. Kalau tidak ada, mungkin mereka tidak bisa makan. Dari postur tubuhnya kelihatan si adik kecil itu tidak terurus,” imbuhnya.

Getas menyebutkan, kondisi mereka sebelumnya tidak bersekolah. Pun demikian anak malang yang berusia paling kecil masih berumur 5 tahun. Kondisi ekonomi yang sangat buruk serta tidak adanya kerabat yang dekat membuat kehidupan mereka semakin sulit. Kematian ibu mereka juga menambah beban hidup yang harus mereka tanggung. "Mereka enggak ada paman atau kerabat yang lain. Lokasinya pun lumayan di pelosok,” ucapnya.

Komunitas Lentera Hati dan masyarakat sekitar kini berupaya menggalang dana dan memberikan bantuan kepada kakak perempuan yang ditinggalkan. Bantuan terus mengalir dari berbagai pihak yang prihatin dengan kondisi tragis yang dialami oleh keluarga ini. (rtu/sar)

 

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved