Rabies di Bali
TEWAS Usai Digigit Anjing Liar, Sugiartama Tidak Kembali Berobat Ke Puskesmas & Tidak Dapat VAR
Ini terjadi, karena pria 35 tahun itu tidak kembali melanjutkan pengobatan di puskesmas pada masa observasi, pasca mengalami gigitan anjing liar.
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - Meninggalnya Kadek Sugiartama, warga Banjar Dinas Tamblingan, Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Buleleng, diketahui akibat tidak mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR).
Ini terjadi, karena pria 35 tahun itu tidak kembali melanjutkan pengobatan di puskesmas pada masa observasi, pasca mengalami gigitan anjing liar.
Hal tersebut diungkapkan pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Buleleng, Nyoman Budiastawan.
Dikatakannya, kasus gigitan yang dialami Sugiartama terjadi pada 7 November 2024. Berawal saat Sugiartama berjualan di Pasar Pancasari, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada.
Baca juga: SELAMAT Jalan Legenda Persebaya Surabaya & Timnas Indonesia, Bejo Sugiantoro Meninggal Dunia
Baca juga: CEKOKI GADIS 13 Tahun Miras, 2 Pemuda Gauli di 2 TKP Berbeda, Ibu Laporkan Terduga ke Polresta

"Saat itu yang bersangkutan digigit anjing liar di pergelangan kaki. Walaupun tidak terlalu parah gigitannya, yang bersangkutan segera dilarikan ke puskesmas terdekat, yakni Puskesmas Sukasada 2," kata Budiastawan dikonfirmasi Selasa (25/2/2025).
Di puskesmas, Sugiartama mendapatkan perawatan sesuai dengan SOP. Yakni pembersihan luka menggunakan air mengalir. Selanjutnya Sugiartama diobservasi selama 14 hari. Hanya saja 14 hari kemudian Sugiartama tidak kembali ke Puskesmas Sukasada 2.
"Padahal pihak puskesmas sudah meminta agar pasien datang 14 hari kemudian. Petugas juga sudah berusaha menghubungi yang bersangkutan, namun ponselnya juga tidak aktif," jelasnya.
Hingga empat bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 18 Februari 2025, Sugiartama sempat berobat ke Puskesmas Pembantu (Pustu) Munduk. Namun ia tidak memberi informasi pernah digigit anjing.
"Itu keluhannya hanya sakit pinggang, sering kencing, dan meriang panas dingin. Sehingga pihak Pustu memberi obat sesuai dengan keluhan yang disebutkan," ujarnya.
Berselang tiga hari kemudian, Sugiartama kembali sakit dan dilarikan ke RS Semara Ratih di Kecamatan Baturiti, Tabanan.
Kata Budiastawan, pada saat ini sejatinya Sugiartama sudah menunjukkan gejala memberontak. Tak hanya itu, Sugiartama juga sudah menunjukkan gejala takut sinar, takut air, nyeri pinggang. Namun pihak keluarga memutuskan untuk pulang paksa.
"Tanggal 22 Februari baru dibawa ke RSUD Buleleng. Namun pada tanggal 23 Februari kondisi pasien semakin memburuk, dan tanggal 24 Februari nyawa pasien tidak bisa diselamatkan," jelasnya.
Menurut Budiastawan, apabila dalam masa observasi 14 hari tersebut Sugiartama datang ke puskesmas, pasti nyawanya bisa diselamatkan. Ini mengingat anjing yang menggigit tidak ditemukan.
"Kalau dia datang (ke puskesmas) pada saat itu, pasti akan mendapatkan VAR. Karena sesuai observasi terhadap anjing yang menggigit, anjingnya sudah tidak ditemukan," tandasnya. (mer)

19 Kerabat Kadek Sugiartama Diberi VAR
TARGET Nol Angka Kasus Rabies, Gianyar Digitalisasi Anjing Peliharaan di Seluruh Desa |
![]() |
---|
Tim Khusus Sasar HPR Liar, Upaya Menekan Angka Kasus Rabies di Jembrana |
![]() |
---|
Disperpa Badung Temukan 9 Kasus Rabies, 14 Anjing Positif Rabies di Denpasar, 54.351 Ekor Divaksin |
![]() |
---|
BADUNG Temukan 9 Kasus Rabies, Catat 17 Desa Belum Disasar Vaksin |
![]() |
---|
916 Kasus Gigitan HPR di Karangasem, Vaksinasi Anjing Masih 43,15 Persen |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.