Mahasiswa STIP Tewas

Mahasiswa Asal Klungkung Putu Satria, Korban Kekerasan di STIP Sempat Curhat Ke Pacar Pernah Dipukul

Putu Satria, Mahasiswa asal Klungkung yang menjadi korban kekerasan di STIP Jakarta sempat curhat ke pacar jika pernah dipukul.

Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Suasana pengabenan Putu Satria Ananta Rustika di Setra Desa Adat Gunaksa, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali pada Jumat 10 Mei 2024. 

"Kami hancurkan agar tidak ada lagi kasus seperti yang dialami sahabat kami (Putu Rio)," ungkap seorang rekan sepergaulan Putu Satria, Kadek Deo, Jumat (10/5).

Baliho bergambar pelaku kekerasan terhadap Putu Satria itu, sengaja dipasang oleh pemuda di Desa Gunaksa, Kamis (9/5) malam. Baliho berukuran 4x6 meter itu bertuliskan "Senioritas Bukan pangkat untuk Membunuh".

Ketika prosesi pembakaran jenazah, para pemuda langsung menghancurkan baliho itu dengan alunan tabuh baleganjur. Baliho itu lalu dibakar hingga hangus.

Pemuda setempat mengaku marah dengan tindakan Tegar menganiaya Putu Satria.

Menurutnya, Tegar dan 3 taruna lain yang ikut berperan dalam kematian Putu Satria, sangat tidak pantas menjadi taruna STIP sebagai calon abdi negara.

Kadek Deo yang juga STT Jaya Parandhita mengatakan, dirinya terakhir bertemu dengan Putu Satria pada libur Idul Fitri.

Saat berada di rumah mereka sempat ngumpul bareng sembari membicarakan berbagai hal tentang kegiatan kepemudaan.

Mengingat Putu Satria merupakan Sekretaris STT Jaya Parandhita.

"Kami sangat berharap pelaku mendapat hukuman setimpal," ungkap dia.

Terkait baliho yang dipasang oleh rekan-rekan satu kampung Putu Satria, itu bertujuan agar semua warga mengetahui wajah orang yang diduga sebagai pelaku pembunuhan.

"Ini ide dari kami, biar masyarakat tahu ini wajah pembunuh saudara-saudara kami," ujar Kadek Kariyasa, pemuda Desa Gunaksa, Jumat (10/5).

Pemuda di Desa Gunaksa, khususnya teman-teman nongkrong dari Putu Satria merasa sangat kehilangan pemuda berusia 19 tersebut.

"Kami berharap hukum bisa ditegakkan, saudara kami (Putu Satria) bisa mendapat keadilan," jelas dia.

Putu Satria meninggal dunia setelah mendapat kekerasan dari seniornya di STIP Jakarta, Jumat (3/5).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian itu terjadi di toilet lantai II STIP Jakarta Utara.

Awalnya korban (Putu Satria Ananta Rustika) dan teman-temannya yang masih tingkat I, dipanggil oleh senior di tingkat II.

Seniornya yang bernama Tegar asal Bekasi, sempat menanyakan siapa yang meminta korban dan rekan-rekanya memakai pakaian olahraga ke gedung pendidikan lantai 3.

Korban dan rekan-rekannya kemudian diminta berbaris berjejer. Kemudian tegar memukul ulu hati korban dengan tangan mengepal sebanyak 5 kali. Hal itu membuat korban terkapar dan meninggal dunia.

Polisi menetapkan 4 tersangka, terkait kasus kematian Putu Satria. (mit)

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved